MODEL PENDIDIKAN KELUARGA SAKINAH

Oleh: A. Rahmat Rosyadi

 

Tawuran pelajar/mahasiswa di berbagai kota di Indonesia akhir-akhir ini spektrumnya makin meluas. Ia telah menjalar ke setiap jenis, jenjang dan jalur pendidikan. Kondisinya sangat mengkhawatirkan dan mengenaskan. Padahal tawuran itu hanya ditimbulkan oleh hal-hal yang sepele. Tetapi mampu merubah sikap dan perilaku peserta didik menjadi ganas dan beringas. Seperti halnya makhluk yang tak berperadaban. Berapa banyak korban sia-sia akibat tawuran ini. Para pelakunya tanpa ada yang dipersalahkan dengan dalih hanya sebuah ”kenakalan anak-anak” biasa.

Teori hukum mana yang menyatakan bahwa ”menganiaya  dan/atau membunuh manusia lainnya hanya dimasukkan ke dalam kategori ”kenakalan”. Dengan alasan apa pun, apalagi dengan sesuatu hal yang sepele. Misalnya tersinggung, atau terhina harga dirinya, lalu seseorang boleh menganiaya dan/atau membunuh? Sudah waktunya,  negara dalam hal ini dunia pendidikan mengambil kebijakan yang tegas. Setiap tawuran yang mengakibatkan penganiayaan dan/atau  pembunuhan para pelakunya harus digiring ke wilayah ”kejahatan”. Apakah tawuran itu dilakukan di dalam atau di luar waktu belajar/kuliah,

Tawuran pelajar/makhasiswa saat ini merupakan kejadian yang luar biasa. Ia jangan dianggap sebagai kejadian yang biasa-biasa saja. Lembaga pendidikan tidak boleh lagi memproteksi para pelakunya dengan alasan akan diberi pembinaan lebih lanjut. Lembaga pendidikan seharusnya menyerahkan masalah ini kepada aparat penegak hukum. Tindakan ini selain untuk memberi efek jera kepada para pelakunya juga daapat mencegah sejak dini bagi para pelajar/mahasiswa yang akan melakukan tawuran.

Mengingat makin dahsyatnya tawuran ini, lalu pertanyaannya bagaimana peran dunia pendidikan? Apa tujuan dan fungsi pendidikan yang selama ini dijejalkan kepada para peserta didik? Banyak sudah, gugatan yang dialamatkan kepada lembaga pendidikan formal – yang dikelola sangat mahal ini. Tetapi gagal dalam melahirkan manusia yang bertaqwa dan cerdas sebagai tujuan dari pendidikan. Gugatan terhadap kebijakan pendidikan ini muncul dalam bentuk pendidikan alternatif, misalnya  home scholing, sekolah terpadu (Sekolah Islam Terpadu/SIT), dan model pendidikan keluarga sakinah.

 

Kebijakan Pendidikan Informal

Tawuran pelajar/makhasiswa yang banyak menimbulkan korban ini menjadi  fenomena sosial. Hal ini  perlu mendapat apresiasi semua unsur masyarakat yang peduli akan pendidikan. Siapa pun tidak boleh saling menyalahkan terhadap lembaga pendidikan formal. Ia hanya salah satu faktor saja yang membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pendidikan. Pendidikan formal tidak dapat memberi garansi bahwa setiap orang yang belajar dipastikan akan menjadi manusia berakhlak mulia.

Dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, memang ada kebijakan yang tidak proporsional. Selama ini hanya pendidik formal dan nonformal yang diberi porsi cukup besar untuk menyelenggarakan pendidikan. Sedangkan dalam hal kebijakan pendidikan informal secara operasional maupun proseduralnya belum menjadi perhatian pemerintah. Padahal, pendidikan informal inilah sesungguhnya merupakan pendidikan pertama dan utama. Ia wajib dilakukan oleh setiap orangtua terhadap anaknya sejak dalam kandungan hingga anak itu memasuki dunia pendidikan formal/nonformal dan menjadi manusia dewasa.

Pendidikan informal adalah ”jalur pendidikan keluarga dan lingkungan”. Ia dapat  dilakukan di dalam keluarga oleh orangtua secara langsung maupun di dalam lingkungan secara kolektif. Pemerintah belum menyentuh pendidikan informal ini dalam bentuk regulasi yang memadai. Sehingga dalam pelaksanaannya pendidikan informal seringkali terabaikan oleh keluarga itu sendiri. Keluarga lebih mengandalkan dan selalu menyerahkan sepenunya kepada pendidikan formal. Inilah kesalahan fatal dalam mendidik yang seharusnya keluarga tetap berperan dalam memberi pendidikan kepada anaknya di dalam keluarga. Walaupun anak-anaknya sedang mengikuti pendidikan formal maupun nonformal.

Sesungguhnya, pendidikan informal harus diberi peran yang jelas dan ruang yang cukup dalam bentuk regulasinya oleh pemerintah. Ia wajib diselenggarakan oleh pemerintah, masyarakat dan orangtua guna mencapai tujuan pendidikan.  UUD `45 dalam Pasal 31 ayat (3), mengamanatkan tujuan pendidikan untuk meningkatkan “keimanan dan ketaqwaan serta akhlak mulia dalam mewujudkan bangsa yang cerdas”. Pendidikan   berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU SISDIKNAS, Pasal 3).

D i sinilah perlunya sinerjitas antara lembaga pendidikan formal, nonformal dan informal dalam melaksanakan tujuan dan fungsi pendidikan nasional. Hal ini  sangat relevan dengan tujuan dan fungsi pendidikan Islam sebagai upaya sadar yang dilakukan secara sistematis guna memperkuat keimanan dan meningkatkan ketaqwaan serta memiliki akhlak mulia. Salah satu cara untuk mencapai tujuan itu perlu diciptakan model  pendidikan keluarga sakinah.

 

Model Pendidikan

Pascasarjana Universitas Ibn Khaldun  (UIKA) Bogor , beberapa waktu yang lalu, berhasil meluncurkan (lounching) program Pendidikan Keluarga Sakinah setingkat Magister. Program ini diharapkan dapat melahirkan para Magister Pendidikan Islam (M. Pd. I) yang mampu memberi pendidikan kepada keluarga-keluarga di Indonesia. Sasarannya setiap keluarga dapat melaksanakan pendidikan terhadap anak-anaknya secara langsung di dalam keluarga. Ayah atau ibu sebagai orangtua merupakan pendidik  pertama dan utama bagi anak-anaknya di dalam keluarga sejatinya harus menjadi model bagi anak-anaknya.

Pendidikan keluarga, di dalam kebijakan pendidikan nasional termasuk pendidikan informal. Pendidikan ini belum banyak disentuh oleh para pembuat kebijakan dan penyelenggara pendidikan sehingga terabaikan. Akibatnya keluarga tidak tahu dan tidak mampu mendidik anaknya secara langsung di rumah. Peluang inilah yang ditawarkan  Prof. Dr. K.H. Didin Haidhuddin, MS, sebagai Direktur Program Pascasarjana UIKA untuk menyelenggarakan program pendidikan keluarga sakinah.

Adian Husaini, Ph.D, seorang cendikiawan muslim sebagai Ketua Program Studi Pendidikan Islam menyatakan bahwa ”sangat diperlukan suatu proses pendidikan berkualitas  untuk mencetak dan/atau meningkatkan pendidikan bagi para pendidik, kususnya orangtua agar memiliki ilmu dan keahlian di bidang pendidikan keluarga guna mewujudkan keluarga sakinah, mawaddah dan rahmah”.

Model pendidikan keluarga sakinah ini diharapkan ke depan dapat meminimalisir karakter negatif peserta didik sejak dari rumah. Meningkatnya pengetahuan, kemauan dan kemampuan orangtua dalam mendidik anaknya di rumah dapat membentuk karakter yang positif. Sehingga anak itu mampu  menghindari diri dari perilaku negatif seperti tawuran, seks bebas, narkoba dan sebagainya untuk menjadi anak pembelajar dan berperadaban.

Penyelenggaraan pendidikan informal secara makro adalah tanggung jawab negara. Masyarakat sebagai bagian dari negara juga diberi tanggung jawab agar berperan aktif. Sedangkan tanggung jawab secara mikro adalah orangtua untuk melaksanakan pendidikan di dalam keluarga.  Sebagaimana perintah Allah SWT: ”Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan” (Q.S. 66, al-Tahrim: 6).

Pendidikan apa pun yang dilaksanakan dalam lingkup makro maupun mikro dimaksudkan untuk mempertahankan fitrah keimanan yang telah dianugerahkan kepada manusia sejak di dalam kandungan. Allah SWT menyatakan: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (Q.S. 30, al-Rum: 30).

Untuk kepentingan tersebut perlu diintensifkan pendidikan informal oleh keluarga. Program pendidikan keluarga sakinah diharapkan dapat merealisasikan perintah Allah SWT dan menjalankan peraturan perundang-undangan negara. Berbagai pendidikan keluarga yang dilaksanakan oleh keluarga, lembaga pendidikan dan pemerintah perlu diperkuat dengan sentuhan akademis. Hal ini supaya dapat terukur tingkat keberhasilannya  secara konseptual, prosedural dan operasionalnya.

Salah satu bentuk pengukuran keberhasilan itu dapat melalui pembentukan dan pengembangan Laboratorium Pendidikan Keluarga Sakinah (LABPENKAS). Beberapa contoh pendidikan keluarga yang dikembangkan oleh kementerian/lembaga, misalnya dalam bentuk kelompok Bina Keluarga Balita (BKB) dan Bina Kelompok Remaja  (BKR) oleh BKKBN, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) oleh Kemendikbud, serta Keluarga Sakinah oleh Kementerian Agama. Bentuk pendidikan keluarga itu dapat dijadikan mitra kerja dalam mengimplementasikan model pendidikan keluarga sakinah.

Dalam kelompok itu para orangtua, khususnya kaum ibu diberi tata cara mendidik anak di dalam keluarga dari kader, fasilitator dan lembaga lain yang mempunyai kepentingan terhadap pendidikan keluarga. Proses pendidikannya hanya bersifat praktis dan belum berpijak pada konsep akademis. Pendidikan keluarga yang diselenggarakan oleh sektor atau instansi itu baru setingkat transfer skill. Para kader dan fasilitator mengajarkan kemudian orangtua  mempraktekkan kepada anak-anaknya di rumah.

Pendidikan keluarga sakinah dapat memperkuat pendidikan kepraktisan tadi (transfer skill) dengan sentuhan teoritis berupa transfer knowledge oleh para pendidikan terlatih secara akademis. Hal ini untuk memadukan antara tataran idealis dengan tataran praktis dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga. Pada kenyataannya masih banyak keluarga yang belum mampu mendidik anaknya sendiri. Ketika anaknya memasuki usia sekolah, keluarga menyerahkan pendidikan sepenuhnya ke lembaga pendidikan formal dan/atau nonformal.

Model pendidikan keluarga sakinah yang digagas ini bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits yang diintegrasikan dengan ilmu pengetahuan praktis. Perpaduan sumber ilmu itu dapat memberi arah kehidupan yang bermanfaat bagi para pendidik, orangtua dan peserta didik. Pendidikan ini merupakan sistem yang dapat dilakukan oleh keluarga di rumah. Pelaksanaannya bisa secara individual maupun kolektif di lingkugan masyarakat setempat dengan melibatkan keluarga di sekitarnya. Tergetnya, bagaimana keluarga tahu, mau dan mampu mendidik anak-anaknya di rumah secara informal?

 

Dr. H. A. Rahmat Rosyadi, SH., MH.

Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.