Pemberdayaan Masyarakat Menulis

Oleh: A. Rahmat Rosyadi

 

Pemberdayaan masyarakat menulis dimaksudkan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat yang mempunyai minat di bidang menulis, tetapi mengalami hambatan psikologis. Hambatan terberat timbul dari dalam diri para calon penulis berupa ungkapan; menulis itu susah. Sesungguhnya aktifitas tulis-menulis mengikuti perkembangan hidup manusia itu sendiri. Mulai dari menulis yang sederhana hingga tulisan yang rumit dalam bentuk karya ilmiah.

Menulis menjadi indikator sangat penting untuk mengukur kemajuan suatu bangsa. Namun faktanya kebanyakan masyarakat lebih suka berwacana daripada menulis. Menulis belum menjadi budaya masyarakat Indonesia sebagai salah satu upaya meningkatkan pengetahuan dan membuka wawasan yang lebih luas. Demikian juga dikalangan terpelajar lebih menyukai menjadi presenter dalam workshop, dan seminar ketimbang menjadi penulis.

Membiarkan kondisi seperti ini sama dengan menunggu bom waktu timbulnya kebodohan dan keterbelakangan yang berkepanjangan. Menyadarkan masyarakat untuk melek huruf saja agar mampu membaca memerlukan beberapa generasi berikutnya. Apalagi untuk melahirkan masyarakat gemar menulis atau menjadi penulis diperlukan sekian banyak genarasi lagi. Fenomena ini harus segera diantisipasi melalui pemberdayaan masyarakat menulis secara terencana.

Menulis itu Mudah

Menulis itu mudah. Itulah ungkapan sederhana dari buku yang berjudul: Menjadi Penulis Profesional itu Mudah: Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Buku Sekolah dan Perguruan Tinggi, ditulis oleh A. Rahmat Rosyadi. Menulis merupakan bagian dari budaya yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Budaya menulis mampu mengubah manusia bodoh menjadi pintar; masyarakat biadab menjadi beradab; dan bangsa tertinggal menjadi maju dan makmur. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa kemajuan Negara salah satunya diukur dengan produktifitas bangsanya dalam menulis.

Membaca dan menulis merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap individu dan masyarakat. Masyarakat pembelajar seperti dosen dan guru tentu saja harus menunjukkan kelebihannya dalam membaca dan menulis dibanding masyarakat biasa. Membaca dan menulis termasuk salah satu indikator Human Development Index (HDI) menunju suatu bangsa kearah yang lebih maju. Hasil survey HDI 2006, menempatkan Indonesia di posisi ke-110 dari 177 negara berada di bawah Thailand diurutan ke-73 dan Malaysia ke-61. Salah satu indikator HDI antara lain adalah baca-tulis pada orang dewasa.

Berkaitan dengan literacy rate sebagai indikator HDI, membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat lemah dibandingkan dengan Negara di Asia Tenggara. Berdasarkan hasil studi Vincent Greanary, Word Bank menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa SD kelas 6 rendah. Indonesia mendapatkan nilai 51,7 di bawah urutan akhir setelah Filipina 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hongkong 75,5 (Rahma Sugihartati, 2010: 3).

Untuk meningkatkan HDI tersebut masyarakat Indonesia perlu diberi pembelajaran “membaca dan menulis”. Tentu saja masyarakat pembelajar harus menunjukkan kemampuan dan kemauan menulis berbagai ilmu dan pengetahuan sesuai bidangnya untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat lainnya. Masyarakat yang menulis akan dikenang dalam sejarah kemanusiaan sekalipun jasadnya telah berbaring di pusara. Sebaliknya masyarakat yang tidak menulis akan hanyut dalam putaran sejarah kemanusiaan. Oleh karena itu, menulislah sekarang, bahwa setiap orang dapat menulis karena menulis itu mudah; semudah bicara.

Pronulis: Program Menulis

Pada kenyataannya tidak semua masyarakat dapat menulis karena berbagai faktor antara lain: tidak memiliki ilmu pengetahuan menulis, tidak ada kemampuan menulis, tidak  ada kemauan menulis dan tidak mengetahui teknik menulis. Faktor lainnya yang menjadi alasan  masyarakat tidak menulis adalah sibuk atau tidak punya waktu untuk menulis, padahal sesungguhnya malas. Apabila alasan yang terakhir  ini selalu menjadi “kambing hitam”, maka sampai kapan pun masyarakat Indonesia tidak menulis.

Berdasarkan latar belakang itulah program masyarakat menulis diluncurkan. Program menulis ini diberi nama “PRONULIS” sebagai akronim dari Program Masyarakat Menulis. Pronulis dimaksudkan untuk memotivasi masyarakat yang ingin menulis. Selain itu juga pronulis dapat menginspirasi masyarakat kearah pekerjaan menulis menjadi sebuah profesi yang dapat menjanjikan dalam meningkatkan taraf hidup.

Kemandegan menulis ironisnya justeru terjadi dikalangan masyarakat terpelajar. Padahal mereka setiap hari bekerja berkaitan langsung dengan dunia menulis, misalnya dosen dan guru. Banyak dosen yang tidak mencapai gelar Guru Besar (Profesor) dalam jenjang kariernya karena tidak mampu menulis buku atau jurnal ilmiah sebagai persyaratannya. Begitu pula banyak guru yang usianya masih muda jenjang kariernya mentok karena tidak menulis makalah atau penelitian tindak kelas. Bagaimana mungkin masyarakat biasa menulis?

Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pronulis menawarkan program masyarakat menulis sebagai wadah komunikasi antar calon dan para penulis profesional. Visi Pronulis; melahirkan masyarakat Indonesia yang memiliki pengetahuan, kemauan dan kemampuan menulis. Misi Pronulis; menyelenggarakan seminar, workshop, advokasi, sosialisasi, pelatihan, konsultasi, dan praktik menulis bagi masyarakat secara langsung tatap muka di kelas maupun tidak langsung melalui media internet.

Pronulis diluncurkannya dengan tujuan untuk (1) meningkatkan ilmu pengetahuan masyarakat di bidang teknik menulis, (2) meningkatkan kemauan masyarakat agar menulis secara berkelanjutan, dan (3) meningkatkan kemampuan masyarakat dalam praktik menulis. Target dan sasaran Pronulis 2010-2011 sebanyak 1.000 orang dengan perincian: Dosen 200, Guru 200, Mahasiswa 200, Siswa 200, Santri 100 dan masyarakat umum yang berminat 100 orang.

Program ini diharapkan dapat melahirkan masyarakat yang tahu, mau dan mampu menulis berbagai bidang ilmu sesuai dengan minatnya, sehingga menulis menjadi sebuah profesi yang menjanjikan dalam meningkatkan karier. Pronulis mengundang masyarakat Indonesia bergabung dalam program masyarakat menulis yang diposting melalui website: www.pronulis.wordpress.com. Untuk menjadi anggota pronulis, ketik pronulis pada jaringan Google kemudian pilih menu utama Register untuk mendapatkan pelatihan menulis “gratis”.

 

Penulis,

Dr. H. A. Rahmat Rosyadi, SH., M.Hum.

Dosen FH UIKA dan STAI AULIA Bogor

 

2 responses

  1. Wow amazing.. congratulation sir for this awesome blog.
    I really hope can learn a lot from you, because I know that you have a good ability on writing technique.
    Best Regards
    Budi Setiawan

    December 23, 2010 at 3:13 am

  2. ayoo.. semangat!

    January 14, 2012 at 2:01 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s