DESAKRALISASI AL-QUR`AN

Oleh:

Dr. A. Rahmat Rosyadi, SH., MH.

Kabag. Hukum dan Perundang-Undangan

Isu-isu desakaralisasi al-Qur`an sebagai kitab suci (sakral) dan disucikan oleh umat Islam sesungguhnya sudah lama ada sejak zaman Nabi, hingga kini bahkan sampai akhir zaman akan terus berlangsung. Bentuknya dapat berupa pemalsuan al-Qur`an, penyusunan teks al-Qur`an secara acak; tidak sistematis, atau menambah teks lain berbahasa arab ke dalam al-Qur`an. Bentuk lainnya lagi adalah penerjemahan al-Qur`an ke dalam berbagai bahasa tanpa disertai teks berbahasa Arab sebagai bahasa al-Qur`an. Walaupun hal ini tidak boleh diartikan bahwa teks al-Qur`an sama dengan bahasa arab umumnya. Isu desakralisasi al-Qur`an ini merupakan konspirasi internasional yang perlu diwaspadai oleh umat islam di belahan bumi mana pun.

Berkenaan dengan isu tersebut, saya sengaja datang berkunjung ke Bali untuk mendapatkan pembuktian bahwa al-Qur`an terjemahan tanpa teks bahasa arab itu masuk lewat pintu Bali. Saya menelusuri beberapa toko buku untuk mendapatkan al-Qur`an dimaksud. Setelah mengamati beberapa buku di “Bookstore”, saya melihat al-Qur`an itu berjejer atau disejajarkan dengan buku novel, buku silat dan buku lainnya yang tidak sebanding dengan al-Qur`an. Bookstore yang menjual al-Qur`an itu berada di bandara Ngurah Rai – Bali di ruang tunggu para penumpang keberangkatan (departure) ke berbagai tujuan penerbangan.

Terjemahan al-Qur`an dalam versi Inggeirs itu diberi nama THE KORAN (maksudnya AL-QUR`AN). Tampilan al-Qur`an itu cukup menarik untuk dibaca karena dikemas layaknya buku novel atau novel silat. Covernya diberi tulisan kaligrafi al-Qur`an dari surah al-Baqarah ayat 1-5. Kemudian saya mengambilnya lalu bertanya kepada penjaga toko buku itu. Apakah terjemahan al-Qur`an ini disertai dengan teks bahasa arab. Ia menjawab sangat singkat, “saya tidak tahu isinya”. Saya makin penasaran, kamungkin al-Qur`an ini yang saya cari selama ini kemudian membelinya satu set dengan harga Rp. 95.000,00. Begitu dibuka pembalut plastiknya, “subhanallah” ternyata terjemahan al-Qur`an itu tanpa disertai teks bahasa arab.

***

THE KORAN, terjemahan al-Qur`an dalam versi Inggers tanpa disertai teks bahasa arab tersebut diterbitkan oleh A Phoenix Paperback London, Inggeris, 2001. Penerjemahnya JM. Rodwell, pakar orientalisten dan pemerhati Timur Tengah untuk studi Islam. Kata pengantar dari Alan Jones, seorang Profesor Emeritus Guru Besar pada Pembroke College, Oxpord and St Cross College Oxpord for spesialis Arab Clasik and Studi al-Qur`an. Saya sendiri belum membaca semua terjemahannnya itu, apakah terdapat kesalahan atau tidak. Namun dikhawatirkan terjadi kesalahan interpretasi dalam memahami teks al-Qur`an yang diterjemahkannya itu sehingga menimbulkan salah tafsir.

Para pembelajar al-Qur`an mengetahui betul bahwa seorang orientalisten yang studi Islamnya itu dirancang tidak untuk memahami isi dan ruh al-Qur`an untuk memperkuat keimanan, melainkan hanya studi untuk ilmu pengetahuan saja. Dapat dipastikan ia menerjemahkan al-Qur`an tidak menggunakan ilmu tafsir (tafsir al-Qur`an) dan ilmu al-Qur`an (‘ulum al-Qur`an) lainnya yang selama ini digunakan dalam penerjemahan al-Qur`an. Penerjemahannya akan berorientasi dan berpijak pada logika dan akal semata tanpa memerhatikan latarbelakang turunnya al-Qur`an (sababunnuzul). Tentu saja hasil terjemahan itu dikhawatikan banyak terjadi penyimpangan yang disengaja maupun tidak. Dalam hal ini perlu upaya penelitian lebih lanjut terhadap hasil penerjemahannya itu.

Berdasarkan temuan tersebut saya berasumsi, bahwa kehadiran terjemahan al-Qur`an tanpa teks bahasa arab sebagai salah satu untuk mendesakralisasi al-Qur`an itu sendiri. Desakralisasi menurut kamus bahasa Indonesia diartikan sebagai “penghilangan kesakralan; proses menghilangkan sifat sakral (suci). Upaya desakralisasi dimulai dari: (1) penerjemahan tanpa teks bahasa arab, (2) penjualan al-Qur`an disembarang tempat, (3) peletakkan al-Qur`an disejajarkan dengan buku novel (porno), buku silat dan buku lainnya yang dianggap tidak sebanding dengan al-Qur`an, (4) pembeli dan penjualnya dapat dipastikan tidak lagi memerhatikan kondisi kesucian dirinya sebagai prasyarat menyentuh al-Qur`an, serta (5) ketiadaan adab atau etika dalam memperlakukan al-Qur`an.

Al-Qur`an yang diterjemahkan tanpa teks berbahasa arab dapat saja dianggap tidak sebagai al-Qur`an yang suci (sakral). Ia menjelma seperti kitab atau buku bacaan lainnya seperti novel porno, novel silat untuk dibaca oleh siapa pun dan dalam kondisi apa pun. Keadaban (etika) untuk menyentuh, memegang, dan membaca terjemahan al-Qur`an ini tidak diperlukan lagi. Siapa pun termasuk orang nonmuslim (kafir, munafik, atheis dan fasik) dapat menyentuh, memegang, dan membacanya. Dengan kondisi seperti itu maka Al-Qur`an ini dapat di baca sambil tiduran di pinggir pantai sambil pakai baju renang atau sambil apa pun bisa, karena tidak perlu adanya prasyarat bersuci.

Bila hal ini dibiarkan tanpa adanya pengendalian atau pencegahan secara dini, maka suatu saat nanti, cepat atau lambat posisi al-Qur`an yang dianggap kitab suci itu nasibnya akan sama dengan kitab Taurat, dan Injil. Kitab-kitab suci yang diturunkan Allah SWT kepada Musa dan Isa itu sekarang tinggal terjemahannya saja, sedangkan teks aslinya sudah hilang dari peredaran. Kitab Taurat dan Injil atau Al-Kitab yang saat ini masih dianut oleh kalangan Yahudi dan umat Kristiani itu hanyalah  surat-surat dari para penulisnya yang dianggap sebagai nabi.

***

Desakralisasi lawan katanya adalah sakralisasi. Sakralisasi diartikan sebagai proses pensucian. Sakralisasi al-Qur`an berarti proses mensucikan al-Qur`an. Sejak dulu hingga sekarang bahkan sampai hari kiamat nanti al-Qur`an tetap saja akan dianggap sesuatu yang suci dan disucikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Dengan menempatkan al-Qur`an sebagai kitab suci maka terdapat etika atau keadaban dalam memperlakukan al-Qur`an untuk menyentuh, memegang, dan membaca al-Qur`an.

Kesakralan al-Qur`an yang paling utama dan pertama terletak pada teks al-Qur`an dalam bahasa arab. Sebagaimana Allah SWT berfirman: “sesungguhnya kami turunkan al-Qur`an dalam bahasa arab agar kamu memahaminya”. (QS. Yusuf: 1). Berdasarkan ayat ini dapat disimpulkan bahwa terjemahan al-Qur`an tanpa teks bahasa arab dapat dianggap bukan al-Qur`an. Untuk menjaga kesakralan al-Qur`an, pemerintah Indonesia dalam hal ini hanya mengenal dua model penerbitan. Pertama, al-Qur`an diterbitkan secara khusus dengan teks full bahasa arab. Kedua, al-Qur`an diterbitkan yang disertai terjemahannya ke berbagai bahasa lain yang dibutuhkan.

Berdasarkan pertimbangan itulah, sebelum kitab suci al-Qur`an itu sama nasibnya dengan kitab-kitab suci sebelumnya maka diperlukan upaya-upaya oleh pemerintah sebagai berikut: (a) penarikan terhadap al-Qur`an yang terlanjur beredar, (b) pencegahan masuknya terjemahan al-Qur`an ke wilayah Indonesia, (c) melakukan nota protes dari pemerintah Indonesia dalam hal ini Kementerian Agama kepada penerbit al-Qur`an dimaksud, dan (d) melakukan penelitian dan pengkajian lebih lanjut terhadap hasil terjemanahan terhadap isi al-Qur`an untuk mengetahui kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan secara sengaja ataupun tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s