KEBIJAKAN KARYA ILMIAH PERGURUAN TINGGI

Oleh: A. Rahmat Rosyadi

 

Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) beberapa waktu yang lalu mengeluarkan Surat Edaran Nomor 152/E/T/2012 Tahun 2012 tentang Publikasi Karya Ilmiah. Surat tersebut akan diberlakukan mulai Agustus 2012 yang intinya menyatakan bahwa: (1) lulusan program sarjana harus mengasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal ilmiah; (2) lulusan program magister harus menghasilkan makalah yang diterbitkan oleh jurnal nasional diutamakan yang terakreditasi Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi; dan (3) lulusan program Doktor harus menghasilkan makalah yang diterbitkan pada jurnal internasional.

Kebijakan karya ilmiah harus publikasi di jurnal ilmiah mengundang pro dan kontra di kalangan mahasiswa itu sendiri. Bagi mahasiswa yang terbiasa menulis hal ini merupakan tantangan sekaligus peluang untuk memromosikan karya ilmiahnya ke ranah publik. Namun bagi mahasiswa yang tidak pernah menulis atau belum terbiasa menulis menjadi kendala dan bumerang untuk mencapai kelulusannya lebih cepat.

Berdasarkan hasil penjajakan pendapat (Republika, 7/3) di beberapa perguruan tinggi muncul komentar positif dan negatif dalam merespon kebijakan tersebut. Komentar positif misalnya disampaikan oleh mahaiswa UNDIP Semarang, Jojo Matsunah, bahwa “karya ilmiah bukan sesuatu yang harus diperdebatkan karena hal itu menjadi tanggung jawab intelektual”. Sebailknya yang merespon negatif datang dari mahasiswa Universitas Guna Dharma, Melani, bahwa kebijakan tersebut perlu ditunda pelaksanaannya, karena dianggap memberatkan”.

Terlepas dari pro dan kontra, bahwa kebijakan itu sesungguhnya perlu direspon secara proporsional oleh perguruan tinggi dan mahasiswa. Hal ini untuk menghindari perilaku plagiaris di kalangangan mahasiswa ketika membuat karya ilmiah sebagai salah satu prasyarat kelulusan. Kasus plagiat di kalangan perguruan tinggi dalam menulis karya ilmiah banyak ditemukan bahkan terjadi pada program doktoral (S3) di perguruan tinggi terkenal, tentu saja ini sangat memprihatinkan dan memalukan kalangan akademis.

 

Publikasi Karya Ilmiah, itu Perlu?

Apabila menghitung waktu, berarti beberapa bulan lagi ke depan setiap kelulusan program Sarjana, Magister, dan Doktoral harus menghasilkan karya ilmiah yang dipublikasikan ke Jurnal Ilmiah lokal, nasional maupun internasional. Hal ini tentu saja merupakan cambuk bagi perguruan tinggi yang terkena dampak dari kebijakan itu. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Muhammad Nuh, memperkuat hal ini untuk menghindari plagiat, bahkan ia menyatakan bahwa perilaku “plagiat sama dengan korupsi” (republika, 7/3).

Publikasi karya ilmiah program Sarjana (S1) dalam bentuk Skripsi, program Magister (S2) dalam bentuk Tesis dan Program Doktoral (S3) dalam bentuk Disertasi sebagai syarat kelulusan memerlukan kajian lebih lanjut. Hal ini berkaitan dengan keberadaan jurnal ilmiah di Indonesia yang kondisinya belum kondusif dan tidak seimbang bila dibandingkan dengan jumlah kelulusan perguruan tinggi.

Jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh PTN/PTS sementara ini belum menjadi sarana karya ilmiah, media diskusi ilmiah atau publikasi ilmiah, melainkan masih sebatas untuk memenuhi “cum” kanaikan pangkat profesi dosen. Apabila kebijakan Ditjen Dikti itu diterapkan dalam waktu dekat, maka bagaimana mungkin jurnal ilmiah yang terbit itu dapat menampung karya ilmiah mahasiswa.

Sebagian besar, jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh PTN/PTS masih dalam  status izin terbit dari Lembaga Ilmu Pengatahuan Indonesia (LIPI) dengan   Internasional Standard Series Number/ISSN sebagai legalitasnya. Sedangkan jurnal ilmiah dengan status TERAKREDITASI Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (DIKTI) yang diaharapkan dapat menampung karya ilmiah lulusan program S2 jumlahnya sangat terbatas.

Tentu saja, hal ini akan menjadi tantangan tersendiri bagi PTN/PTS untuk meningkatkan status jurnal ilmiahnya tidak hanya sekedar mendapatkan ISSN juga harus TERAKREDITASI. Perlu diketahui bahwa proses akreditasi jurnal ilmiah di negara ini sangat rumit, prosedurnya berbelit dan memerlukan biaya mahal. Kemudian jurnal ilmiah yang mendapatkan status terakreditasi menjadi barang mahal dan bersifat eksklusif yang hanya memuat karya ilmiah dari mereka yang memilki popularitas dari pada mempertimbangkan mutu keilmiahan.

 

Pemberdayaan Menulis

Pemberdayaan menulis di kalangan mahasiswa perlu ditingkatkan terutama penulisan karya ilmiah. Dalam menulis seringkali banyak mengalami hambatan  psikologis. Hambatan terberat timbul dari dalam diri mahasiswa berupa ungkapan; menulis itu susah. Sesungguhnya aktifitas tulis-menulis mengikuti perkembangan hidup manusia itu sendiri. Mulai dari menulis yang sederhana hingga tulisan yang rumit dalam bentuk karya ilmiah.

Menulis menjadi indikator sangat penting untuk mengukur kemajuan suatu bangsa. Namun faktanya kebanyakan mahasiswa lebih suka berwacana daripada menulis. Menulis belum menjadi budaya masyarakat Indonesia sebagai salah satu upaya meningkatkan pengetahuan dan membuka wawasan yang lebih luas. Demikian juga sebagian besar dikalangan dosen lebih menyukai menjadi presenter dalam workshop, dan seminar ketimbang menjadi penulis.

Membiarkan kondisi seperti ini sama dengan menunggu bom waktu timbulnya kebodohan dan keterbelakangan yang berkepanjangan. Menyadarkan mahaiswa/dosen  agar mampu dan menulis memerlukan beberapa generasi berikutnya. Apalagi untuk melahirkan masyarakat gemar menulis atau menjadi penulis diperlukan sekian banyak genarasi lagi. Fenomena ini harus segera diantisipasi melalui pemberdayaan menulis secara terencana sejalan dengan kebijakan Kemendikbud tersebut.

     Sesungguhnya menulis itu mudah. Itulah ungkapan sederhana dari buku yang berjudul: Menjadi Penulis Profesional itu Mudah: Proses Kreatif Menulis dan Menerbitkan Buku Sekolah dan Perguruan Tinggi, ditulis oleh A. Rahmat Rosyadi. Menulis merupakan bagian dari budaya yang telah dikaruniakan oleh Tuhan kepada manusia. Budaya menulis mampu mengubah manusia bodoh menjadi pintar; masyarakat biadab menjadi beradab; dan bangsa tertinggal menjadi maju dan makmur. Bahkan ada pendapat yang mengatakan bahwa kemajuan Negara salah satunya diukur dengan produktifitas bangsanya dalam menulis.

Membaca dan menulis merupakan kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh setiap individu dan masyarakat. Masyarakat pembelajar seperti mahasiswa, dosen dan guru tentu saja harus menunjukkan kelebihannya dalam membaca dan menulis dibanding masyarakat biasa. Membaca dan menulis termasuk salah satu indikator Human Development Index (HDI) menunju suatu bangsa kearah yang lebih maju. Hasil survey HDI 2006, menempatkan Indonesia di posisi ke-110 dari 177 negara berada di bawah Thailand diurutan ke-73 dan Malaysia ke-61. Salah satu indikator HDI antara lain adalah baca-tulis pada orang dewasa.

Berkaitan dengan literacy rate sebagai indikator HDI, membaca dan menulis masyarakat Indonesia sangat lemah dibandingkan dengan Negara di Asia Tenggara. Berdasarkan hasil studi Vincent Greanary, Word Bank menunjukkan bahwa kemampuan membaca siswa SD kelas 6 rendah. Indonesia mendapatkan nilai 51,7 di bawah urutan akhir setelah Filipina 52,6, Thailand 65,1, Singapura 74,0 dan Hongkong 75,5 (Rahma Sugihartati, 2010: 3).

Untuk meningkatkan HDI tersebut masyarakat Indonesia perlu meningkatkan  “membaca dan menulis”. Tentu saja masyarakat pembelajar harus menunjukkan kemampuan dan kemauan menulis berbagai ilmu dan pengetahuan sesuai bidangnya untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat lainnya. Masyarakat yang menulis akan dikenang dalam sejarah kemanusiaan sekalipun jasadnya telah berbaring di pusara. Sebaliknya masyarakat yang tidak menulis akan hanyut dalam putaran sejarah kemanusiaan. Sekali lagi kebijakan kemendikbud perlu direspon secara positif sekaligus merupakan lecutan bagi kalangan akademis untuk menunjukan karya ilmiah.

 

 

        Penulis,

        Dr. H. A. Rahmat Rosyadi, SH., M.H.

        Dosen Pascasarjana UIKA Bogor

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s