KARAKTER DAN PROSES PEMBENTUKANNYA (2)

Oleh: Dr. H.A. Rahmat Rosyadi

A. Apa Itu Karakter
Pakar psikologi mendefinisikan karakter sebagai sifat, watak atau tabiat seseorang yang telah dimiliki sejak lahir dan merupakan sesuatu yang membedakan setiap individu. Heraclitus, seorang philosof berpendapat bahwa karakter diartikan sebagai pembentuk nasib, bahkan karakter yang baik akan menentukan nasib bangsa. Karakter juga didefinisikan sebagai pembawaan dari dalam yang dapat digunakan untuk membentuk tingkah laku, sikap dan tabiat yang benar.
Karakter biasanya menunjukkan kualitas dari mental atau moral seseorang dan menunjukkan perbedaan satu individu dengan lainnya. Walaupun karakter seseorang selain merupakan watak dasar individu, namun dalam perkembangannya sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor lingkungan di sekitarnya mulai dari keluarga, sekolah, masyarakat. JJ. Rousseau seorang pakar psikologi menganggap bahwa anak sesungguhnya mempunyai fitrah yang baik, tetapi lingkunganlah yang membentuk kepribadiannya. Seseorang yang mempuanyai karakter baik, akan mampu mencintai sesama manusia dan menjadi masyarakat yang produktif.
Untuk membentuk karakter yang yang baik dapat dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan secara terus menerus yang dimulai dalam keluarga. Karena sifat karakter dapat dipengaruhi lingkungannya, maka penanaman nilai-nilai agama, moral dan budi cekerti sangat penting dilakukan sejak dini. Budi pekerti anak merupakan sekumpulan sifat-sifat dimana seseorang menyontoh dan meniru lingkungannya serta sangat dipengaruhi oleh pembinaan sejak usia dini. Sedangkan moral yang berarti tatacara, kebiasaan dan adat istiadat dapat diartikan sebagai norma yang menata sikap dan perilaku manusia yang sesuai dengan standar sosial.
Nilai-nilai tersebut merupakan hasil pergumulan panjang antara faktor-faktor psikhis anak dan faktor lingkungan adalah sesuatu yang diperoleh, bukan bawaan sejak anak itu dilahirkan. Menurut Elizabeth B. Hurlock, ada empat hal dalam mempelajari sikap moral:
1. Mempelajari apa yang diharapkan keluarga sebagai kebiasaan dan peraturan di rumah.
2. Mengembangkan suara hati melalui proses belajar membedakan dan memilih mana yang baik dan buruk, yang benar dan salah.
3. Belajar mengalami perasaan bersalah dan rasa malu bila berperilaku tidak sesuai dengan norma yang ada.
4. Mempunyai interaksi sosial untuk belajar apa saja yang diharapkan oleh anggota masyarakat.

B. Proses Pembentukan Karakter
Proses pembentukan karakter anak merupakan sebuah eksplorasi terhadap nilai-nilai universal yang berlaku dimana, kapan, oleh siapa, dan terhadap siapa saja tanpa mengenal etnis, sosial, budaya, warna kulit, paham politik dan agama yang mengacu kepada tujuan dasar kehidupan. Bahwa anak pada prinsipnya mempunyai hasrat untuk mencapai kedewasaan, menjalin cinta kasih dan memberikan sumbangan yang berarti bagi masyarakat secara lebih luas. Pemenuhan ketiga hasrat tersebut merupakan kepuasan hidup dan sangat tergantung pada kehidupan yang mengacu pada nilai-nilai tertentu sebagai cerminan karakter yang baik.
Oleh sebab itu, Karakter yang baik adalah karakter yang berdasarkan nilai-nila agama sebagai kunci keberhasilan dan kebahagiaan hidup manusia. Dengan mengamati kondisi yang terjadi saat ini, di mana penghayatan dan pengamalan nilai-nilai agama, etika dan moral yang cenderung merosot sehingga muncul perilaku menyimpang seperti konflik antar agama dan sosial, perkelahian antar pelajar, antar desa dan antar mahasiswa, perusakan lingkungan, penyalahgunaan narkoba, minuman keras dan penyimpangan seksual serta berbagai kejahatan lainnya.
Membentuk karakter anak agar berperilaku dan betindak baik sehingga berguna bagi masyarakat, negara dan bangsa memang bukan pekerjaan yang mudah dalam waktu sekejap mata, melainkan memerlukan proses yang berkesinambungan dan merupakan suatu upaya yang tiada berhenti. Karena dimasa mendatang diperlukan anak-anak yang cerdas, mempunyai karakter baik, berkepribadian mantap, mandiri, disiplin, memiliki etos kerja tinggi sangat dibutuhkan oleh tuntutan zaman untuk memasuki era globalisasi yang penuh persaingan dengan bangsa-bangsa lain di dunia.
Dalam kehidupan seseorang pasti melalui bermacam-macam pengalaman dalam lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat yang lebih luas. Keseluruhan pengalaman ini termasuk di dalamnya segala bentuk pendidikan yang diterima dan pada akhirnya akan mempengaruhi kesadaran moral serta perkembangan keseluruhan kepribadian anak yang lebih dikenal dengan “karakter”. Para pakar pendidikan dan psikologi berpendapat, bahwa karakter dapat dibentuk melalui pendidikan, peneladanan, dan pola asuh pada tiga lingkungan pendidikan yang sangat mempengaruhi perkembangan kepribadian seseorang. Tiga lingkungan pendidikan itu adalah: keluarga, sekolah dan masyarakat.
1. Proses Pembentukan Karakter Melalui Keluarga
Dalam Undang-undang Nomor 52 Tahun 2009 Tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, disebutkan bahwa “Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami isteri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya” (Pasal 1 angka 6).
Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama di mana anak mulai mengembangkan diri sebagai mahluk sosial. Kehidupan keluarga, dengan segala macam tingkah laku dan pergaulan orang tua ataupun anggota keluarga yang lain biasanya menjadi contoh bagi anak, terutama anak-anak di bawah umur enam tahun. Dalam keluarga, anak memperoleh kasih sayang dari orang tua yang tidak dapat diperoleh dari orang lain di luar keluarga. Kasih sayang orang tua tersebut tanpa pamrih dan merupakan cinta sejati. Cinta sejati adalah kemampuan untuk mencintai dan dicintai dengan tidak mementingkan dirinya sendiri dan tanpa memperhitungkan penghargaan sosial.
Orang tua dengan cinta sejatinya dapat memenuhi tiga peranan penting, yaitu sebagai orang tua, guru, teman, dan pemimpin. Sebagai orang tua, mereka mencintai anak-anaknya tanpa pamrih. Sebagai guru mereka dapat menanamkan nilai-nilai agama yang baik, serta memberikan contoh atau keteladanaan kepada anak-anaknya. Sebagai teman orangtua dapat menerima keluhan (curhat) anak dalam menghadapi situasi yang tidak bisa dihadapinya. Sebagai pemimpin, mereka memelihara tradisi, menolong, membimbing, serta mendorong anak-anaknya dalam mencapai cita-cita. Oleh karena itu keluarga merupakan sekolah pertama dalam kehidupan seseorang.
Pengalaman anak dalam keluarga merupakan dasar bagi perkembangan tingkah lakunya kelak, termasuk tingkah laku moral dan akhlak. Penanaman nilai-nilai agama di lingkungan keluarga seharusnya dilakukan sejak dini, dengan jalan membiasakan anak pada aturan-aturan dan sifat-sifat yang baik, sesuai dengan taraf perkembangan anak. Pada mulanya sifat-sifat tersebut tidak dipahami oleh anak, tetapi dengan pengalaman-pengalaman langsung serta contoh orang tua dalam kehidupan sehari-hari, maka anak mulai belajar bertingkahlaku.
Pengalaman-pengalaman dan kebiasaan-kebiasaan yang dialami anak dalam keluarga akan menjadi dasar bagi pembinaan moral dan akhlaknya, sehingga sangat mempengaruhi dalam penyesuaian dengan norma-norma lingkungan yang luas di luar rumah. Lingkungan keluarga merupakan penghubung pertama dari nilai-nilai perilaku yang terdapat di lingkungan masyarakat. Untuk mendapatkan hasil seperti yang diharapkan, orang tua sebaiknya memperhatikan cara mendidik dan memperhatikan pula ciri-ciri khas dari setiap perkembangan yang dilalui anak, serta melaksanakan sendiri nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

2. Proses Pembentukan Karakter Melalui Sekolah
Sekolah merupakan salah satu lingkungan sosial yang dibutuhkan anak. Ia berfungsi memperluas kehidupan sosial anak, tempat anak belajar menyesuaikan diri terhadap bermacam-macam situasi. Mengapa sekolah menjadi tempat kedua yang penting dalam pembentukan karakter anak?
Perkembangan moral dan spiritual seseorang berjalan seiring dengan perkembangan kognitifnya. Oleh karena itu, sekolah sebagai wahana pengembangan kognitif anak sangat penting artinya dalam pembentukan karakter. Dunia sekolah yang sampai saat ini masih menekankan bentuk-bentuk hafalan sebenarnya kurang mendukung pembentukan karakter. Belajar untuk menerapkan suatu pelajaran akan lebih membekas dalam diri anak, ketimbang mendengar kata-kata dan menghafalnya saja.
Sekolah juga sebaiknya menyediakan pengasuhan dan kasih sayang bagi pertumbuhan moral anak. Orang dewasa lain dapat berperan sebagai sosok yang dapat diandalkan dalam membentuk karakter anak. Orang dewasa lainnya antara lain adalah guru di sekolah. Karakter guru seringkali menjadi perhatian murid. Perilaku dan sikap guru dalam menciptakan suasana tertentu di dalam kelas dapat mempengaruhi pertumbuhan moral murid. Guru yang memperlihatkan perhatian personal meninggalkan kesan mendalam bagi anak didik.
Selain guru, lingkungan sekolah juga memungkinkan anak belajar dengan sesama temannya. Anak belajar menerima dan menjalankan norma-norma yang dituntut oleh masyarakat. Biasanya seorang anak akan berusaha mengaktualisasikan dirinya di antara teman-teman dan gurunya. Kegiatan yang dilakukannya akan lebih banyak ke arah mencoba-coba untuk mencari jati diri. Dengan demikian, lingkungan sekolah adalah tempat pembentukan karakter seseorang yang sifatnya eksploratif.
Guru dan teman-teman di sekolah sangat mempengaruhi perkembangan tingkah laku anak. Sekalipun hubungan antar murid memberi pengaruh yang tidak sedikit, pribadi gurulah yang biasanya menjadi tokoh yang ditiru oleh anak karena pribadi guru merupakan pengganti orang tua. Dengan demikian, guru diharapkan secara langsung dapat membimbing dan mengarahkan tingkah laku anak terhadap hal-hal yang terpuji.

3. Proses Pembentukan Karakter Melalui Masyarakat
Setiap lingkungan masyarakat di mana anak menetap biasanya mempunyai norma-norma tertentu yang sangat mempengaruhi sikap dan perilaku dari anggota masyarakatnya. Untuk dapat diterima menjadi anggota suatu kelompok sosial, seseorang harus belajar menyesuaikan diri, menerima nilai-nilai yang berlaku dan menjalankan norma-norma yang didukung oleh kelompok tertentu.
Pergaulan di luar lingkungan keluarga dan sekolah, anak sering mementingkan nilai-nilai dan norma-norma teman sebayanya (peer group). Sifat, sikap dan perilaku yang disenangi temannya akan dipraktekan meskipun hal tersebut tidak disenangi orangtuanya. Sehingga peer group bisa berpengaruh positif dan bisa juga berdampak negatif terhadap pembentukan karakter seorang anak.
Pada kelompok masyarakat tertentu, utamanya di kalangan remaja, lingkungan masyarakatnya sangat berperan. Pada masa ini, lingkungan rumah dan sekolah dirasakan sangat sempit dan kurang memenuhi kebutuhan anak. Dalam lingkungan masyarakat biasanya anak akan mengidentifikasikan dirinya dengan pemimpin kelompoknya, seperti kelompok Pramuka, Karang Taruna, Remaja Mesjid dan sebagainya merupakan tempat anak untuk meniru sikap dan perilaku pemimpin kelompoknya. Namun demikian, hal ini biasanya hanya bersifat temporer saja.
Tidak kalah pentingnya media massa elektronik maupun cetak, sangat berpengaruh dalam pembentukan karakter anak. Informasi melalui media elektronik dan media cetak yang semakin mudah didapatkan masyarakat, tentunya akan berdampak positif dan negatif terhadap pembentukan karakter anak.
Dengan makin bertambahnya pengalaman-pengalaman serta makin meluasnya interaksi anak dengan berbagai kelompok sosial di masyarakat dan makin berkembangnya kemampuan yang dimilikinya, diharapkan anak mulai belajar mematuhi nilai-nilai serta norma-norma kelompok tanpa adanya paksaan dari luar. Anak mulai mengambil-alih sistem nilai dan norma, termasuk sikap sosial yang dimiliki kelompok untuk menginternalisasi nilai-nilai dan norma-norma kelompoknya.
Di lingkungan masyarakat, sikap dan perilaku anak biasanya akan langsung mengarah pada aspek praktis. Secara otomatis ia akan mempraktekkan nilai-nilai dan norma-norma yang ditanamkan dalam keluarga dan dipelajari di sekolah. Nilai-nilai dan norma-narma masyarakat sekitarnya tentu saja akan berpengaruh pada pembentukan karakternya. Melalui kehidupan di masyarakat, anak senantiasa akan mempraktekkan berbagai aspek nilai dan norma yang berlaku.

C. Pembentukan Karakter Anak Usia Dini
Mengapa pembentukan karakter harus sejak usia dini? Para ahli pendidikan dan psikologi berpendapat tahwa tahap-tahap awal kehidupan seorang anak merupakan masa yang sangat penting untuk meletakkan dasar-dasar kepribadian yang akan memberi warna ketika ia menjadi dewasa. Pada saat ini pembentukan dasar kemampuan penginderaan, berfikir dan pertumbuhan standar nila-nilai dan moral agama sebagai awal pencapaian identitas diri anak. Sikap, kebiasaan dan perilaku yang dibentuk pada tahun-tahun awal kehidupan seorang anak sangat menentukan seberapa jauh ia berhasil menyesuaikan diri dalam kehidupan ketika dewasa.
Usia dini disebut sebagai masa kritis dan sensitif yang akan menentukan sikap, nilai dan pola perilaku seorang anak dikemudian hari. Di masa kritis ini potensi dan kecenderungan serta kepekaannya akan mengalami aktualisasi apabila mendapatkan rangsangan yang tepat. Menurut Reber, periode kritis dan sensitif perlu diberi rangsangan, perlakuan secara tepat agar mempunyai dampak positif. Sebaliknya kalau periode ini terlewatkan maka pengaruh dari luar tidak akan bermanfaat bagi pembentukan karakter anak.
Periode pertumbuhan kritis pada usia dini erat hubungannya dengan perkembangan biologis terutama perkembangan otak seorang anak, karena otak bagian susunan syaraf yang berfungsi mengontrol aktivitas fisik maupun mental seseorang mulai tumbuh. Pada usia dini ini pertumbuhan otak seseorang belum berkembang secara optimal, sehingga rangsangan yang tepat dilakukan pada periode kritis ini akan berdampak pada pertumbuhan otak secara optimal.
Tentu saja keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan anak untuk menjadi pribadi yang matang. Orangtua sebagai lingkungan sosial pertama bagi anak sehingga sikap dan perilaku orangtua terhadap anak akan mempengaruhi kepribadian anak. Peran dan tanggung jawab orangtua harus dimulai saat anak dapat menerima rangsangan dari luar. Anak akan mulai mempelajari bagaimana ia harus menerima, mengolah dan bereaksi terhadap rangsangan. Meskipun anak akan bereaksi dengan memperlihatkan jati dirinya, namun ia mulai menanamkan pola-pola tertentu dalam bereaksi terhadap rangsangan luar.
Pola inilah yang kemudian menjadi dasar pengembangan karakter. Para ahli menyimpulkan bahwa sekalipun bayi belum dapat diberi pendidikan, atau belum dapat menangkap pengertian verbalitas dan perilaku, namun demikian ia seolah-olah dapat menyadari perlakuan mana yang penuh kasih sayang dan sikap mana yang tidak disertai dengan kasih sayang. Menurut Ericson, dengan timbulnya rasa percaya dan aman sebagai lingkungan pertumbuhan dan perkembangan, maka anak akan membangun kepercayaan selama hidupnya, dan akan membuat anak mengekspresikan, kebaikan hati, harapan dan cinta kasih secara timbal balik.
Selanjutnya anak secara berangsur-angsur akan mengurangi ketergantungannya terhadap orangtua. Akhirya anak sudah mengetahui apakah sesuatu itu salah atau benar, baik atau buruk maka akan berproses menuju orang yang bermoral. Dengan demikian hubungan orangtua dan anaknya sejak dini merupakan kunci bagi pertumbuhan dan perkembangan karakter anak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s