KONSEP PENDIDIKAN ISLAM DALAM PEMEBENTUKAN KARAKTER ANAK (5)

Oleh: Dr. H.A. Rahmat Rosyadi
A. Konsep Pendidikan Seumur Hidup
Islam menganut konsep pendidikan seumur hidup (life long education) yang dimulai sejak dini, seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW, bahwa tuntutlah ilmu dari buaian sampai memasuki liang kubur. Sejak dini menurut rasul itu dapat diterjemahkan oleh kita sejak awal kehidupan manusia hingga menjelang kematiannya.
Bagaimana menanamkan nilai-nilai agama dalam pembentukan karakter anak melalui keluarga berdasarkan paedagogis Islam? Prinsip paedagogis Islam dalam mendidik manusia sesungguhnya bertumpu pada kewajiban-kewajiban yang mesti dilaksanakan menurut masing-masing peran orang dalam bertindak dan berperilaku dimanapun berada, bagaimana pun situasi dan posisinya. Serta memberikan hak-hak kepada masing-masing orang untuk menerimanya secara proporsional.


Islam memandang pendidikan manusia itu harus berlangsung seumur hidup. Oleh karena itu ungkapan life long education itu sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Pendidikan Islam Dalam Upaya Membentuk Karakter itu melalui fase-fase kehidupan manusia sebagai berikuf. saat memilih jodoh, saat hubungan intim suami-isteri, saat bayi dalam kandungan, saat bayi dilahirkan, saat bayi menyusui, saat bayi menjadi anak, saat anak menjadi remaja, saat usia lanjut, bahkan saat manusia menjelang meninggal dunia, hingga masuk liang kubur.
Dalam kaitan ini, kita akan membicarakan tentang penanaman nilai-nilai agama sebagai upaya membentuk karakter anak sejak dini dengan harapan menjadi anak yang saleh dan salihat.

B. Saat Memilih Jodoh
Kenapa harus mulai dari memilih jodoh? Pemilihan jodoh ikut menentukan pembentukan karakter anak yang akan dilahirkan dari pasangan suami-isteri. Sebelum nikah sebaiknya para remaja putra atau putri dalam memilih jodoh harus selektif. Selektif dalam berbagai segi terutama masalah keberagamaannya. Kesalahan memilih jodoh akan berakibat fatal dikemudian hari.
Memilih jodoh sebagaimana petunjuk Rasulullah SAW melalui hadits riwayat Bukhari-Muslim, bahwa “Dalam memilih jodoh harus dilihat empat hal: (1) kekayaannya, (2) keturunannya, (3) kecantikannya, dan (4) keagamaannya”. Yang dimaksud dengan kekayaann disini adalah siap dan mampu memberikan biaya hidup yang menjadi kewajiban suami terhadap isteri dan anak-anaknya. Yang dimaksud dengan keturunannya adalah kita harus mengenal siapa dan bagaimana keadaan keluarganya; apakah termasuk orang yang mempunyai ahlaqulkarimah. Yang dimaksud dengan kecantikannya adalah kondisi lahir dan bathin seorang wanita. Yang dimaksud dengan agamanya adalah kondisi keberagamaan calon isteri apakah termasuk orang taat atau tidak. Apabila dari empat pilihan itu kita tidak mendapatkannya, maka pilihlah colon isteri/suami yang taat dalam menjalankan keberagamaannya.
Bagaimana peran orang tua dalam memilih jodoh? Peran orang tua dalam memilih jodoh anaknya yang masih remaja (gadis) sangat penting. Karena ikut menentukan keberlangsungan dan kebahagiaan anaknya dimasa mendatang. Oleh karena itu orang tua harus selektif juga terhadap agama dan akhlak calon menantunya. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW melalui hadits riwayat Turmuzhi, bahwa: “Jika kepadamu datang meminang seorang pemuda yang kamu senangi agama dan akhlaknya, maka kawinkanlah puteramu dengannya. Jika kamu tidak melakukannya, maka akan terjadi fitnah dan bencana yang banyak”

C. Saat Hubungan Intim Suami-Isteri
Do’a apa yang diucapkan saat hubungan intim? Setelah pasangan remaja itu resmi menjadi suami isteri, maka akan terjadi hubungan intim. Pada saat itu suami-isteri harus membaca do’a. Supaya apabila terjadi percampuran sperma dan ovum sebagai calon bayi, Allah SWT menjauhkan dari pengaruh negatif syetan.
Do’a yang dapat dibaca setia saat mulai hubungan intim adalah: “Ya Allah, jauhkanlah kami dari syetan dan jauhkanlah syetan itu dari anak yang (mungkin) engkau anugerahkan sebagai rezeki kami”. Ini merupakan proteksi pertama dari Allah Ta’ala kepada manusia dari godaan syetan.
D. Saat Bayi Dalam Kandungan
Apa itu bayi dalam kandungan? Anak adalah keturunan kedua setelah ayah dan ibunya. Anak Dalam Kandungan diartikan sebagai anak yang masih berada didalam perut ibunya atau anak yang belum lahir. Istilah lain untuk anak dalam kandungan adalah anak prenatal. Pendidikan anak dalam kandungan adalah pendidikan anak yang belum lahir atau mendidik anak yang masih berada dalam perut ibunya.
Bagaimana perkembangan bayi dalam kandungan? Saat bayi dalam kandungan digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut: Manusia diciptakan dari saripati tanah” Saripati tanah menjadi sperma; Dari sperma itu menjadi segumpal darah disebut periode zygote; menjadi segumpal daging disebut periode embriyo; dijadikannya tulang-tulang; kemudian dibalut dengan daging-daging; kemudian dijadikan bentuk manusia yang belum sempurna. Proses ini disebut disebut periode fetus. Sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah SWT:
             •                        

Artinya:
“dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah.

“kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim).”

“kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. kemudian Kami jadikan Dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S. 23. al-Mukminun: 12-14)

Penyempurnaan ciptaan manusia itu disebutkan didalam Al-Qur’an, bahwa Allah meniupkan roh (nyawa) kedalam jasad manusia yang dilengkapi dengan penciptaan indera lainya seperti pendengaran, penglihatan dan hati, sebagaimana firman Allah:
              •  

Artinya:
“kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (Q.S. 32. As-Sajadah: 9)

Perkembangan janin dalam kandungan ibunya berlangsung secara bertahap. Tahapan penyempurnaan manusia ini, hingga diberikan roh oleh Allah SWT. Menurut hadits riwayat muttafaqun alaih pada usia janin itu berusia 120 hari. Pada saat inilah ciptaan manusia dianggap sempurna. Dengan tingkat kognitif yang sangat peka terhadap respon yang disampaikan atau dilakukan oleh ibunya. Bayi dalam kandungan sudah dapat berkomunikasi, walaupun secara pasif.
Bagaimana ruh bayi dalam kandungan dapat berkomunikasi? Run bayi itu dapat melakukan dialog dengan penciptanya; Allah SWT. Seperti digambarkan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
                         •    

Artinya:
“dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (Q.S. 7. Al-A’raf: 172).

Kapan sebaiknya orang tua mengadakan kenduri, selamatan anaknya saat dalam kandungan? Selamatan, kenduri atau sedekah atas anak dalam kandungan untuk bersyukur kepada Allh SWT boleh dilakukan, tetapi tidak wajib. Apabila orang tua mau melakukan kenduri, selamatan, sedekah, saat yang paling tepat adalah pada usia bayi dalam kandungan 120 hari (4 bulan).
Selamatan empat bulanan dan bukan sedekah tujuh bulanan. Pada periode empat bulan ini, janin diberikan roh. Karena saat ini pula Allah SWT menentukan qodho dan qodar (nasib dan ketentuan manusia) selama menjalani hidup di dunia. Ketentuan-ketentuan Allah SWT itu berkaitan dengan: jenis kelamin, perjalanan hidupnya, jodoh, rezeki dan ajalnya.
Oleh karena itu, saat yang monumental inilah sebaiknya orang tua berdo’a untuk anaknya yang masih dalam kandungan. Supaya menjadi anak yang shaleh; mempunyai moral dan akhlak yang tinggi, dianugerahkan rezeki yang lapang, dibahagiakan nidupnya dan sebagai nya.
Bagaimana Rasulullah SAW memerintahkan mendidik anak dalam kandungan? Perintah mendidik anak sejak dalam kandungan seperti dikatakan oleh Rasulullah SAW sebagai berikut:
 Seorang isteri bila sedang mengandung bayi, maka harus dalam kondisi sejahtera dan bahagia lahir dan bathin. Kesejahteraan lahir dengan cara memenuhi kebutuhan gizi dan kebersihan badannya agar sehat dan siap untuk melahirkan. Seperti di diperintahkan Rasulullah SAW, Riwayat Muslim, bahwa: “orang yang celaka adalah orang yang telah (membuat derita) celaka dalam perut ibunya”.
 Seorang isteri bila sedang mengandung harus diberikan kebahagiaan Kebahagiaan bathin, agar selama mengandung, isteri merasa senang, tidak disakiti hatinya atau fisiknya. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW, Riwayat at-Tabrani, bahwa: “manusia yang paling jelek adalah manusia yang membuat isteri/keluarganya menjadi sengsara.

E. Saat Bayi Dilahirkan
Setelah bayi mengalami hidup dalam kandungan ibunya berjalan selama lebih-kurang 9 bulan. Saatnya orang tua terutama ibu menunggu kelahiran bayi nya dengan segala persiapannya. Saat kelahiran bayi dapat pula dijadikan sebagai sarana pendidikan. Supaya bayi, ketika lahir mendapat sentuhan rohani, mental-spiritual dan moral yang positif dari lingkungan luar.
Apa yang harus dilakukan orang tau ketika bayi lahir? Ketika bayi lahir, orang tua harus melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
 Pada waktu pertama kali bayi lahir ke dunia, orang tuanya harus mengumandangkan kalimat tauhid: adzan ditelinga kanan bayi dan mengumandangkan iqomat ditelinga kiri bayi. Kalimat tauhid ini merupakan komunikasi awal dari orang tua kepada anaknya. Dimaksudkan agar sentuhan kata atau kalimat yang pertama kali di dengar bayi adalah kata atau kalimat tauhid. Mengingatkan kembali pernyataan roh pada saat dialog dengan Allah SWT sebelum ditiupkan kedalam jasad manusia, bahwa Allah 5WT adalah Rabku. Adzan dan iqomah merupakan suatu kalimat yang mengandung nilai-nilai tauhid dan muatan moral amat tinggi. Inilah merupakan proteksi kedua dari Allah Ta’ala kepada manusia dari godaan syetan.
 Setelah bayi lahir, kewajiban orang menurut Rasulullah dalam hadits Ibnu Hajar adalah “memberikan nama yang baik-baik”.
 Memberikan sedekah sebagai rasa syukur kepada Allah Ta’ala atas kelahiran bayinya. Seperti hadits riwayat Bukhari, bahwa: “semua anak tergantung kepada aqikah yang dipotong pada hari ketujuhnya. Pada hari itu diberikan nama dan di cukur rambutnya”. Saat ini juga dapat dijadikan sarana pendidikan anak oleh orang tuanya dengan cara memanggil anaknya dengan nama baik; bukan nama atau sebutan tercela. Memohon bantuan do’a dari lingkugan keluarga atau masyarakat dengan memberi sedekah atas nama bayi nya melalui aqikah yang dipotong nya.
 Memberikan do’a kepada anaknya. Do’a orang tua kepada anaknya dapat dijadikan sebagai sarana pendidikan dan prasyarat menciptkan kekuatan rohani dan mental spiritual dengan memohon kepada Allah SWT; sang pencipta. Agar dikaruniai anak yang shaleh/shalehat, bermoral, berahklak dan berperilaku yang baik sebagai berkarakter positif. Do’a-do’a yang populer terdapat dalam al-Qur’an sebagai berikut:

         •  
Artinya:

“… “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa”.
(Q.S.3 Ali Imran: 38).
    
Artinya:

“Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh.
F. Saat Bayi Menyusui
Berpa lama bayi harus disusui? Perintah Allah SWT kepada seorang ibu untuk menyusui bayi atau anaknya, tidak hanya memberikan sekedar pemenuhan nutrisi bagi bayi yang tidak ada tandingannya. Proses menyusui selain memberikan nutrisi, terpenting lagi adalah mendidik bayi atau anak selama dalam belaian kasih ibu melalui pelukan, ciuman, bisikan dan kehangatan. Perintah Allah SWT untuk menyusui bayi dalam al-Qur’an, yaitu:
     •            

Artinya:
“dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun, bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (Q.S. 31 Luqman: 14)
Menurut Al-Azhar As-Syarif, dalam bukunya “Al-Manhaj Al-Islami fi Ri’ayatit Thufulah” mengatakan bahwa menyusui anak secara alami mendatangkan manfaat yang sangat besar, yaitu:
 Menyuburkan emosi dan rasa tanggung jawab dalam menunaikan tugasnya;
 Menggiatkan alat-alat pencernaam;
 Mendudukan kembali anggota kelahirannya pada tempatnya yang aiami dan tepat;
 Berfungsi mengatur keturunan dan menjarangkan kelahiran.

G. Saat Bayi Berkembang Menjadi Anak
Bagaimana pendidikan anak ini berlangsung? Bayi sudah berada dalam pangkuan dan buaian orang tuan, maka proses pendidikan itupun terus berlanjut sesuai perkembangan anak. Allah Ta’ala memerintahkan orangtua untuk mendidik anaknya sebagaimana dalam al-Qur’an bahwa:
        ••              

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. 66. At-Tahrim: 6)

Perintah memelihara ini melekat pada kewajiban keluarga dalam mendidik anaknya, agar menjadi manusia yang mempunyai akhlak dan moral yang tinggi. Sehingga tidak terjerumus kedalam kesengsaraan, kenistaan dan kecelakaan di dunia maupun di akhirat.
Proses pendidikan anak dalam keluarga ini berlangsung sejak bayi lahir sampai ia menjadi anak, remaja, dewasa dan menikahkannya Perintah Aliah SWT dalam Al-Qur’an dan Petunjuk Rasulullah SAW kepada orang tua agar mendidik anak-anaknya dalam keluarga, seperti tercantum dalam beberapa hadits sebagai berikut:
 Setelah bayi berkembang menjadi anak, maka pendidikan ditingkatkan sesuai dengan perkembangan mental anak. Mulai dari belajar membaca dan menulis. Seperti diperintahkan Rasulullah, Riwayat Abu Daud; “Kewajiban orang tua kepada anak-anaknya adalah memberi nama yang baik, mengajarkan baca tulis dan menikahkannya jika ia dewasa”;
 Dalam mendidik anak harus sabar, tetapi tegas. Jangan bertindak kasar, tetapi harus lembut. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW, Riwayat Baihaqi, “Mengajarkan sesuatu dan jangan bersikap kasar terhadap anak”;
 Orang tua atau keluarga yang tidak memberikan pendidikan kepada anak-anaknya termasuk dosa. Apalagi sampai menyia-nyiakan anaknya sehingga menjadi anak lemah secara mental dan ruhani. Seperti “diperingatkan Rasulullah SAW, Riwayat
 Abu Dawud, “Berdosalah bagi orang tua atau keluarga yang menyia-nyiakan pendidikan yang menjadi tanggung jawabnya”.
 Orang tua yang mampu secara ekonomi lebih baik mendidik anaknya dari pada memberikan warisan berupa harta dan kekayaan. Seperti dikatakan Rasulullah SAW, Riwayat Bukhari-Muslim, “Sesungguhnya, seorang ayah adalah lebih baik mendidik anaknya daripada bersedekah beras 4 liter”.
 Bila orang tua mampu, sebaiknya anak-anak diberikan pendidikan yang lebih tinggi jenjang pendidikannya. Berikan pendidikan yang cocok dengan kemampuan anaknya. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW, Riwayat Ibnu Majah, “Ajarilah putera-puterimu dan tingkatkan (kebaikan) pendidikan mereka”.
 Mendidik anak untuk menanamkan nilat, moral dan etika, sebaiknya diupayakan oleh orang tua, bagaimana caranya. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW, Riwayat Ibnu Majah, “Didiklah putera-puterimu dan upayakanlah sebaik-baik pendidikan untuk mereka”.

H. Saat Anak Beranjak Menjadi Remaja
Bagaimana Pendidikan anak remaja diberikan? Perkembangan biologis anak selalu disertai dengan perkembangan mental dan karakter yang berbeda. Biasanya karakter anak-anak masih dapat dikontrol oleh orang tuanya, karena ia masih mentaati orang tuanya. Tetapi apabila ia memasuki remaja, perkembangan mentalnya sering berubah dengan karakter yang berbeda pula. Karena anak remaja sudah mendapatkan pengaruh dari lingkungan luar keluarga, seperti sekolah dan masyarakatnya.
Oleh karena itu mendidik anak remaja akan berbeda dengan mendidik anak-anak usia dibawah 5 tahun. Dengan berkembangnya anak-anak menjadi remaja, menurut Elly Risman, perlu diperhatikan tentang landasan perkembangan psikososial, yaitu “emosi, temperamen dan pengalaman awal dengan orang tua”.
Dengan memperhatikan perkembangan psikososial ini, bagaimana menanamkan nilai-nilai, moral dan etika agama pada anak remaja. Islam melalui kesempurnaan ajarannya telah memberikan prinsip-prinsipnya, seperti yang ditunjukan oleh Rasulullah SAW melalui Sabdanya:
 Mengajarkan shalat dan memisahkan tempat tidur memasuki usia 7 tahun dan 10 tahun, maka anak remaja segera diajarkan shalat sebagai penanaman nilai-nilai keagamaan. Seperti Sabda Rasulullah SAW: Perintahkanlah anak-anak mu shalat pada usia tujuh tahun, pukullah mereka (yang mengabaikan perintah) pada usia sepuluh tahun dan pisahlah tempat tidur masing-masing pada usia tersebut. Ajarkan shalat kepada anak-anakmu pada usia tujuh tahun. pukullah mereka kalau mengabaikannya pada usia sepuluh tahun. Bersahabatlah kalian dengan mereka pada usia tujuh tahun, kemudian lepaskanlah mereka mandiri”
 Memupuk rasa cinta kepada Nabi, keluarga, dan Al-Qur’an. Untuk menanamkan nilai-nilai cinta kasih anak terhadap lainnya. Termasuk dalam menjunjung tinggi moral kepada sang Khalik. Rasulullah mengajarkan, seperti dalam hadits, Riwayat Tabrani, “Mendidik putera-peuterimu dalam tiga hal mencintai nabi mu, mencintai ahli baitnya, dan membaca al-Qur’an”.
 Mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Sejak remaja anak sudah dibiasakan mematuhi perintah Allah SWT dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban nya. Demikian juga dilatih agar mampu menjauhi larangan Allah SWT dengan kesadarannya. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW, riwayat Ibnu jabir, “Suruhlan putera-puterimu mematuhi perintah Allah SWT dan menjauhi larangan Allah SWT. Ttulah yang menghindarkan mereka dari siksaan neraka”.
 Bermain dan berteman dengan anak remaja. Dalam upaya memberikan tauladan terhadap anak remaja dan mengontrol secara langsung maupun tidak langsung, sebaiknya orang tua selalu mengajak bermain dan berteman atau sebaliknya jika diajak harus selalu siap untuk memberikan perhatian. Seperti Sabda Rasulullah SAW: “ajak mainlah anakmu tujuh tahun, didiklah ia tujuh tahun dan temanilah ia tujuh tahun”. “Temanilah selalu anak-anakmu”.
 Pendidikan seksual: larangan prostitusi; zina, homoseks dan lesbian. Anak remaja perlu diberikan pendidikan seksual secara dini. Dengan cara memberikan informasi, menyadarkan dan berterus terang dalam masalah seksual atau yang berhubungan dengannya. Supaya anak remaja memahami betul apabila menyalahgunakan masa reproduksinya secara benar atau salah dengan segala resikonya. Mengajarkan seksual kepada anak remaja harus dilandasi dengan moral dan etika agama. Seperti diperinthkan Allah’ SWT sebagai berikut:
            •                                                                                   •     
Artinya:

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”.

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung”. (Q.S. 24 An Nur: 30-31).

Demikian juga Allah SWT melarang kepada manusia untuk menikahkan laki-laki atau perempuan sesama zina dengan muslim, kecuali dengan pezina atau musyrik karena sangat membahayakan, sebagaimana dalam Al-Qur’an:
•       •            

Artinya:

“laki-laki yang berzina tidak mengawini melainkan perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dikawini melainkan oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian itu diharamkan atas oran-orang yang mukmin.

            
Artinya:
“Mengapa kamu mendatangi laki-laki untuk (memenuhi) nafsu (mu), bukan (mendatangi) wanita? sebenarnya kamu adalah kaum yang tidak mengetahui (akibat perbuatanmu)”. (Q.S. 27. An-Naml: 55)

                 
Artinya:
“mengapa kamu mendatangi jenis lelaki di antara manusia”,

“dan kamu tinggalkan isteri-isteri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, bahkan kamu adalah orang-orang yang melampaui batas”.

 Menanamkan etika dan moral dalam bergaul. Anak dan remaja harus belajar bagaimana menghormati orang tua. Hal ini sangat penting, karena orang tua yang memelihara mereka waktu kecil. Keridoan Allah berada dalam keridoan orang tua. Kemarahan Allah terletak pada kemarahan orang tua kepada anaknya. Allah SWT berfirman dalam Al-qur’an:
       •  •                              

Artinya:

“dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau Kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya Perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka Perkataan yang mulia”.

“dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.

 Berkata sopan santun dan menjadi pemaaf. Dalam pergaulan sehari-hari, anak terkadang sering mempunyai persoalan dengan temannya. Biasanya bersumber dari ketidaksopanan anak terhadap lainnya. Demikian juga apabila anak itu harus mampu menjadi anak pemaaf atas kesalahan orang lain. Disinilah letak pentingnya mendidik anak agar menjadi anak yang tahu sopan santun dan menjadi pemaaf.
 Perilaku ini sangat dibenci Allah SWT dan mengundang banyak permusuhan diantara manusia. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:
                            •   •    

Artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s