PENDIDIKAN KARAKTER ISLAMI (1)

Oleh: Dr. H.A. Rahmat Rosyadi

A. Latar Belakang
Pada masa lalu, Indonesia dikenal oleh bangsa lain sebagai bangsa yang sopan dan santun. Walaupun diantara kita tidak saling mengenal satu sama lain, tetapi setiap kali orang bertemu dengan sesamanya atau orang lain selalu melakukan say hallo; saling menegur dan mengucapkan salam. Setidaknya, tersenyum manis yang mengesankan persahabatan dan kedamaian.
Bangsa kita dikenal juga sebagai bangsa yang penuh toleransi antar sesama. walaupun terdiri dari berbagai suku, agama, budaya yang sangat beragam, tetapi kita selalu saling menghormati dan menghargai. Tidak pernah terdengar kerusuhan, bentrokan diantara kelompok untuk saling berupaya memusnahkan etnis, agama atau budaya lainnya. Bangsa lain juga mengenal jiwa kegotongroyongan bangsa kita, di mana setiap kegiatan kemasyarakatan selalu dikerjakan bersama tanpa pamrih.
Itulah gambaran bangsa Indonesia yang pernah dimiliki dan sempat dikagumi oleh bangsa lain di dunia. Namun saat ini, betapa kita menyaksikan bangsa Indonesia menjadi bangsa barbarian. Tampilan wajah keberingasan sering dipertontonkan secara fulgar tanpa mengenal perikemanusiaan, bahkan seakan tidak berperadaban Misalnya suatu umat beragama bentrok dengan umat agama lain, hingga menimbulkan banyak korban. Satu etnis berusaha menindas etnis lain tanpa adanya penyesalan.
Peristiwa pembunuhan, perjudian, perkosaan, penjarahan, perampokan disertai kekerasan dianggap biasa seakan di negara ini tidak ada hukum yang dapat mengadilinya. Betapa hati kita merasa pilu menyaksikan sikap, sifat, tindakan dan perilaku masyarakat dan bangsa ini. Bangsa kita memperlihatkan sebuah karakter yang agresif. Setiap Kelompok dapat memaksa kelompok lain untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu sesuai keinginan masing-masing.
Dampak negatif dari perubahan nilai-nilai, etika dan moral bangsa Indonesia saat ini hingga menampilkan karakter barbarian telah mempengaruhi terhadap sikap, tindakan dan perilaku anak-anak kita dalam menghadapi kenyataan hidupnya. Begitu juga masalah ini telah mempengaruhi pola asuh orangtua terhadap anak-anaknya dalam keluarga, juga di lingkungan masyarakatnya yang mungkin tidak bersahabat dengan anak-anak. Mungkin juga hal ini telah mempengaruhi guru-guru kita dalam cara mendidik peserta didiknya di sekolah, hingga kandas nilai-nilai positifnya.
Fenomena inilah yang seharusnya menjadi perhatian kita bersama orangtua, masyarakat terutama pemerintah untuk membangun kembali karakter anak-anak kita diatas puing-puing reruntuhan nilai-niiai etika yang telah hancur berantakan. Kita mesti menemukan kembali nilai-nilai moral anak-anak kita yang telah hilang ditelan masa. Kita harus membangkitkan lagi nilai-nilai agama yang telah kandas dimakan perubahan. Kita sebaiknya dapat menggali lagi perilaku dan tindakan anak-anak kita yang sesuai dengan nilai-nilai budaya bangsa kita untuk menghapus kesan sebagai bangsa barbarian.


Dalam merespon masalah tersebut, banyak digelar berbagai seminar, lokakarya dan penelitian-penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi dan pendidikan untuk membuat konsep pembentukan karakter anak melalui jalur keluarga sebagai titik awal. Dengan terbinanya keluarga-keluarga kita yang akan melahirkan anak-anak dengan karakter yang baik, diharapkan dapat meningkatkan citra bangsa Indonesia yang sedang mengalami babak belur. Kita harus memulainya lagi pembentukan karakter sejak dini dalam Keluarga yang dilandasi nilai-nilai islami.
Hal ini seperti diungkapkan oleh Prof. DR. H. Winarno Surakhmad, M.Ed. dalam makalahnya berjudul “Mendidik Karakter Bangsa Melalui Keluarga”. Ia menyatakan bahwa: pemberdayaan keluarga sebagai tujuan strategis dalam bidang pendidikan, tidak bisa berjalan sendiri. Keberhasilannya ditentukan oleh banyak faktor, termasuk yang bersifat non-pendidikan. Karenanya konsep pendidikan karakter bangsa melalui keluarga yang harus bernilai normatif memerlukan straregi yang lebih komplek dari yang dapat dibayangkan secara konvensional, dan akan berlangsung sebagai proses tanpa akhir.
Demikian juga, Izsamu Matsuya, pakar pendidikan Jepang, melalui makalahnya: “Konsep Pendidikan Karakter” menyebutkan bahwa perkembangan karakter melalui tiga tujuan. Pertama, Individu. Titik awal pembangunan karakter adalah individual sebagai perpaduan dari hati nurani dan kesadaran. Kedua, Keluarga. Perkembangan karakter berikutnya diperoleh melalui hubungan keluarga dan hubungan sosial yang dialami sejak kehidupan dimasa anak-anak hingga dewasa. Ketiga, kontribusi sosial. Aspek-aspek personal, keluarga dan sosial kehidupan sangatlah berkaitan satu sama lain.
Persoalan mendasar dari berbagai kajian itu, apakah pembentukan karakter anak sejak dini dengan pola asuh yang tepat itu meski didahului oleh perkembangan fisik kemudian emosional dan intelektual? Sebaiknya tiga aspek tersebut berjalan seiring secara proporsional. Namun demikian prakteknya setiap keluarga berbeda cara dalam memberikan pendidikan pada anak-anaknya terhadap ketiga aspek tersebut disebabkan ketidaktahuannya.
Sebagai indikator ketidakseimbangan dalam mengembangkan ketiga aspek tersebut dilaporkan hasil penelitian. Sebagaimana diungkapkan oleh Fauzan Aswin Hadis dari hasil penelitiannya bahwa orangtua dari kalangan ekonomi lemah berpendapat yang paling utama dalam mengasuh anak (0-4) tahun adalah memberikan makanan anak (66,67%), sedangkan memberikan pendidikan kepada anak (16,67%) dan mengatur perilaku anak untuk membentuk karakter (3,33%).
Hal ini berarti, para orangtua tidak memahami tentang pendidikan dan pengembangan anak sebagai sesuatu yang sangat penting dilakukan sejak dini. Dari penelitian itu juga diketahui, bahwa keberhasilan orangtua dalam membentuk karakter anak saleh (baik) atau anak salah (nakal) lebih banyak ditentukan oleh faktor pola asuh anak (66,67%), sedangkan faktor sifat, bakat dan bawaan hanya mencapai (21,67%). Dengan demikian, kata Fauzan, mereka lebih percaya bahwa faktor nurture sangat berperan dibandingkan faktor nature dalam mendidik dan mengembangkan anak.
Pandangan lain mengemukakan bahwa sebaiknya anak telah memperoleh pendidikan sejak dini dengan mendapat stimulan yang tepat dan baik sebagai bentuk karakter yang diinginkan. Pendidikan anak sejak dini tidak hanya mengembangkan yang bersifat fisik, lebih utama justru pada pengembangan emosional, intelektual dan sosial anak di lingkungan keluarga. Tentu saja yang terbaik dalam mendidik anak adalah mengembangkan semua aspek itu secara seimbang.
Apakah perlu, dalam membentuk karakter anak melalui keluarga tadi dirumuskan secara definitif? Dalam arti karakter anak seperti apa yang diharapkan? Karena, karakter merupakan kepribadian seseorang dalam bertindak dan berperilaku. Bisa saja, bila hal itu di definisikan secara spesifik untuk membentuk karakter anak dalam keluarga yang dikaitkan dengan nilai-nilai agama, norma-norma dan etika tententu. Walaupun hal ini sulit diwujudkan, tetapi masih mungkin dapat dilakukan.
Misalnya membentuk karakter anak berdasarkan nilai-nilai, norma-norma dan moral pancasila, diharapkan anak berperilaku dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma dan moral Pancasila. Membentuk karakter anak berdasarkan nilai-nilai, norma-norma, etika dan akhlakulkarimah agama Islam, rnaka diharapkan anak itu dapat berperilaku dan bertindak sesuai dengan nilai-nilai, norma-norma, etika dan akhlakulkarimah agama Islam. Dan seterusnya sesuai dengan karakter anak yang dikehendaki.
Dengan menyadari sepenuhnya, bahwa pendidikan yang selama ini diberikan sekolah pada umumnya berorientasi pada peningkatan kognisi dan psikomotoris dengan sasaran otak dan otot. Sebaiknya para pendidik harus memperhatikan secara seimbang yang berkaitan dengan peningkatan afeksi dengan sasaran qalbu dan hatinutani anak melalui sentuhan nilai-nilai agama, norma-norma, etika dan akhlak, sehingga anak dapat menampilkan sosok yang mengesankan dengan perilaku dan bertindak positif dalam hidupnya; dan bukan sosok yang mengenaskan dan menggemaskan dengan perilaku dan bertindak negatif.
Membicarakan pembentukan karakter anak sejak dini melalui penanaman nilai-nilai agama Islam harus segera dimulai. Supaya anak-anak kita bertindak dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai dan norma-norma agama Islam. Prosesnya dilakukan melalui pemdidikan yang mesti berlangsung seumur hidup sesuai dengan prinsip-prinsip paedagogis Islam yang menekankan bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup (life long education) yang bertumpu pada qalbu; hatinurani untuk membentuk karakter mahmudah.
Karenanya, mendidik anak merupakan kewajiban yang mutlak bagi orangtua, sehingga mendidik tidak bisa digantikan orang lain. Membentuk karakter anak kearah yang positif melalui penanaman nilai-nilai agama dengan pola asuh yang tepat serta memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak kita dapat dilakukan oleh orangtua di rumah, kemudian dilanjutkan di sekolah oleh guru para pendidik dan di lingkungan masyarakat yang lebih luas oleh tokoh-tokoh masyarakat.

B. Pendidikan Anak Usia Dini
Mengapa pendidikan anak itu penting dilakukan sejak usia dini? Pada dasarnya manusia terlahir ke dunia ini tanpa identitas, tidak menganl apa-apa dan siapa-siapa serta untuk apa dilahirkan. Ia juga dilahirkan tidak pernah berpesan terlebih dahulu untuk dijadikan apa, bagaimana dan mau ke mana selanjutnya, kecuali hanya satu bahwa manusia dilahirkan hanya membawa fitrah yang telah dianugerai Allah SWT., sebagaimana Allah SWT berfirman:
Bukankah telah datang atas insane (manusia); suatu masa dari waktu; yang ia belum menjadi sesuatu yang dapat disebut? (Q.S.76. Al Insan).

Firman Allah ta’la itu memberi gambaran kepada kita, bahwa manusia lahir ke dunia tidak mempunyai apa-apa. Manusia lahir tidak disebut siapa pun. Manusia lahir tidak membawa harta, jabatan dan kekayaan. Manusia lahir tidak mempunyai nama apa pun. Manusia lahir tidak membawa moral etika, dan agama apa pun yang menjadi karakter perilaku dan tindakannya, kecuali memiliki potensi dan nilai-nilai keimanan yang bersifat sederhana. Selain potensi keimanan juga manusia memiliki potensi untuk kafir apabila tidak diberi penguatan terhadap fitrah keimanannya itu.
Manusia lahir dalam keadaan netral dari berbagai nilai, norma dan agama. Sebagaimana Rasulullah SAW., bersabda: “anak dilahirkan dalam keadaan fitrah…”. Menurut ahli psikologi, John Lock anak lahir bagaikan kertas putih yang belum ada gambarnya. Kita sekarang: orangtua, pendidik, masyarakat dan negara bermaksud menggambar apa di atas kertas itu? Apakah Orangtua akan menggambar anak itu menjadi anak baik, beragama, bermoral, mempunyai etika dan ahlakulkarimah sekaligus menjadikan anak pintar, cerdas, kreatif dan inovatif.
Mungkin juga sebaliknya apakah orang tua akan menjadikan anak itu jelek; tidak mempunyai etika, tidak tahu sopan santun, tidak beragama sekaligus menjadikan anak itu masa bodoh, cuek, tolol atau bego. Semuanya terserah kita: orangtua, pendidik, masyarakat dan negara. Semua komponen bangsa itu memiliki tanggung jawab masing-masing sesuai dengan forsinya. Hal ini akan sangat bergantung kepada cara kita mendidik anak di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan dan masyarakat.
Bagaimana manusia itu diciptakan? Manusia diciptakan terdiri dari jasad dan organ-organ yang sangat penting. Allah SWT menciptkan manusia itu dilengkapi dengan ruh sebagai penggerak hidup. Qalbu; hatinurani sebagai sarana hubungan manusia dengan sang Pencipta. Hayat sebagai potensi kehidupan, Hawa sebagai motivasi hidup. Dengan kelengkapan inilah manusia mempunyai visi dan misi hidup sebagai “Khalifatullah; wakil Allah” di bumi untuk memelihara dan memakmurkannya. Pendidikan harus diberikan kepada manusia berkaitan dengan fungsi-fungsi organ tubuh, seperti:
1. Ruh mempunyai potensi tingkat kesadaran dan kecerdasan intelektual, moral, estetika, religious, perasaan dan iradah. Dengan itu, maka ruh berfungsi dapat: memahami pesan, petunjuk, ajaran dan menerima rangsangan dari luar;
2. Qalbu: hatinurani mempunyai fungsi: meng-aqal, memahami, mengobservasi, mengimani, merasa, merenungkan dan dzikir;
3. Hawa: berfungsi sebagai pendorong, tetapi apabila tidak dikendalikan cenderung mempunyai sifat kebinatangan, sifat-sifat iblis dan syethan.
4. Jasad; tubuh berfungsi sebagai wadah atau tempat organ-organ ruh, qalbu dan hawa dalam bertindak dan berperilaku sebagai manusia baik atau buruk.

Dengan fungsi jasad dan organ tadi itulah, manusia dapat diberi dan menerima pendidikan dan pelatihan. Pendidikan disesuaikan dengan fase-fase pertumbuhan anak. Substansi materi pendidikan disampaikan berdasarkan nilai-nilai agama, moral, etika dan akhlak yang dianutnya supaya mempunyai karakter yang positif dalam bertindak dan berperilaku.
Bagaimana anak itu supaya menjadi orang baik? Menjadikan anak baik yang mempunyai nilai, etika, moral, ahlaqulkarimah, beragama, pintar, cerdas, kreatif, dan inovatif maka anak itu harus diberi pendidikan dan pelatihan. Seperti sabda Rasulullah SAW, “Mencari ilmu adalah wajib bagi laki-laki dan perempuan”. Berdasarkan sabda tersebut dapat disimpulkan bahwa menyelenggarakan pendidikan itu hukumnya wajib.
Bila anak itu diberikan pendidikan? Pendidikan dan pelatihan dilakukan sejak dini dan secara terus menerus, hingga akhir hayat. Seperti diperintahkan Rasulullah SAW, “Tuntutlah ilmu sejak buaian hingga liang lahat”. Oleh karena itu, prinsip life long education sangat sejalan dengan ajaran Islam. Penanaman nilai-nilai, moral dan etika agama dalam upaya membentuk karakter anak harus dimulai sejak dini.
Dimana anak itu diberi pendidikan? Pendidikan dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dan oleh siapa saja yang memiliki kemampuan. “Tuntutlah ilmu sampai ke negeri cina” Demikian kata-kata bijak tentang pentingnya pendidikan bagi manusia. Pendidikan bersifat normative yang pertama dan paling utama adalah di lingkungan keluarga. Pendidikan di lingkungan keluarga dilaksanakan bersama orang tua, saudara, adik atau kakak.
Selanjutnya pendidikan yang bersifat eksploratif diberikan di lingkungan sekolah. Di lingkungan sekolah, anak bersama guru dan bertemu teman-teman sebayanya. Kemudian pendidikan yang sersifat aplikatif diberikan di lingkungan masyarakat. Di lingkungan masyarakat, anak dapat bergaul dengan tetangga dan sesama manusia dengan bersikap dan berperilaku positif sesuai dengan situasi dan kondisi lingkungan.

C. Ranah Pendidikan Berbasis Qalbu; hatinurani
Teori-teori pendidikan telah berkembang sesuai pemahaman para ahli pendidikan dari masa ke masa. Mereka berpendapat bahwa pendidikan anak mengikiuti fase-fase usia anak sebagai berikut:
1. Pendapat para ahli pendidikan masa lalu berpendapat, bahwa pendidikan anak secara aktif dimulai setelah anak itu berumur tujuh tahun.
2. Kemudian berkembang pendapat baru, bahwa pendidikan anak sebenarnya harus dimulai sejak usia empat tahun. Karena pada fase ini disebut sebagai golden period. Pendapat ini bertahan cukup lama. Sehingga mampu menumbuhkan sarana pendidikan Taman kanak-kanak, Play Group, Bina Keluarga Balita, Taman Pendidikan Al-Qur’an dan semacamnya.
3. Belakangan ini terdapat pendapat yang lebih ekstrim lagi. Pendidikan anak semestinya harus berlangsung sejak anak itu masih menjadi bayi dalam kandungan. Sigmun Freud, sebagaimana dikutip oleh Lee Salk dan Rita Kremer, menegaskan bahwa pengalaman-pengalaman anak sebelum dan
sejak awal setelah lahir merupakan persiapan sikap mental dan respons emosional. Meskipun pengalaman-pengalaman tersebut terasa sudah terlupakan.
4. Paedagogis Islam mengajarkan, bahwa untuk menanamkan nilai-nilai agama, moral dan etika dalam upaya membentuk karakter anak melalui pendidikan harus dimulai sejak dini mulai dari dalam kandungan sejak manusia diberi ruh pada usia 120 hari.
Mendidik anak untuk penanaman nilai-nilai agama, moral dan etika, saat ini telah terjadi pergeseran ranah. Dari bersifat kognitif, untuk mencerdaskan otak dan bersifat psikomotoris; untuk meningkatkan kemampuan dan keterampilan otot saja, sekarang harus mencapai ranah yang bersifat afektif, untuk menumbuhkan sikap dan perilaku anak dengan pembentukan Karakter yang positif.
Sentuhan pendidikan selain otak anak, sekarang mulai dibidikan terhadap qolbu. Hati nurani anak yang berbasis spiritual dan ruhaniah. Dengan pengembangan pendidikan kearah qolbu; hati nurani maka anak selain mempunyai daya tahan fisik, juga mempunyai psihkis dan ruhani yang kuat, mental spiritual yang kokoh dalam menghadapi kehidupan. Dengan sentuhan qolbu dalam mendidik anak, selain menjadi cerdas dan pintar juga mempunyai moral tinggi dan akhlaqulkarimah. Sehingga dapat membentuk karakter anak yang dapat berperilaku dan bertindak positif.
Wahfiudin, pakar Pendidikan Islam berpendapat bahwa mendidik anak harus menyentuh dimensi moral yang bermuara di dalam qolbu. Hati nurani. Karena pada dasarnya kehendak manusia itu digerakkan oleh hati nuraninya. Apakan dalam perilaku dan bertindak baik; positif atau bertindak dan berperilaku jelek negatif.
Apakah manusia itu dalam bertindak dan berperilaku akan mengedepankan nuraninya atau hawanya? Supaya manusia itu bertindak dan berperilaku baik; positif. Menurut Wahfiudin, maka:
1. Pembentukan karakter harus berbasis spiritual. Dengan mengutif firman Allah SWT dalam al-Qur’an, yaitu: Q.S.18. Al Kahfi: 28

Artinya:
“dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

2. Pembentukan karakter berbasis ruhani. Firman Allah SWT dalam Q.S. 18. At Kahfi: 10
Artinya:
(ingatlah) tatkala Para pemuda itu mencari tempat berlindung ke dalam gua, lalu mereka berdoa: “Wahai Tuhan Kami, berikanlah rahmat kepada Kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi Kami petunjuk yang Lurus dalam urusan Kami (ini).”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s