PENERAPAN NILAI-NILAI DASAR KARAKTER ANAK (4)

Oleh: Dr. H.A. Rahmat Rosyadi

A. Nilai-Nilai Dasar Karakter Anak
Penanaman nilai-nilai agama dalam pembentukan karakter manusia sangat penting dan amat strategis supaya anak mempunyai sikap dan perilaku positif. Tahukah kita tentang karakter anak? Mana sikap anak yang baik dan mana perilaku anak yang buruk. Sadarkah kita terhadap anak kita manakala berbuat benar atau bertindak salah. Mampukah kita mengenali anak kita berkata sopan dan bertindak santun. Itulah beberapa pertanyaan yang harus dijawab oleh orangtua atau para pendidik.


Upaya untuk membentuk karakter dengan segala perilaku yang baik tentunya harus dilakukan sejak usia dini dalam setiap tahap tumbuh kembang anak dalam keluarga. Hal ini memang terasa sulit untuk dilaksanakan, karena banyak kendala dan hambatannya. Tetapi apabila ini diupayakan oleh setiap keluarga Indonesia kemudian berhasil, maka kristalisasi nilai, moral, etika dan akhlakulkarimah dalam membentuk karakter yang positif bagi bangsa ini semakin kokoh.
Karakter baik yang diwujudkan dalam keluarga merupakan hal yang sangat mendasar. Kemampuan anak supaya berfungsi sebagai warga masyarakat yang bertangungjawab harus dibina sejak dini. Suatu keluarga yang mempraktekan sikap sebagai warga masyarakat yang baik serta peduli terhadap tetangganya akan dapat membentuk karakter positif bagi lingkungannya. Orangtua yang secara alamiah menunjukan cinta kasih serta rasa saling menghormati di rumah, serta menyediakan lingkungan yang lebih terarah sangat positif bagi pertumbuhan karakter anak.
Oleh sebab itu, pembentukan karakter anak di dalam keluarga sesungguhnya tidak mudah mempraktekkannya, karena memerlukan penanganan secara sistemik. Keterkaitan komponen lain seperti sekolah dan lingkungan masyarakat dalam pelaksanaarnya sangat mutlak diperlukan. Memilih keluarga sebagai entripoint dalam persemaian karakter yang dilakukan dengan konsep serta pendekatan yang benar, diharapkan dapat berperan sebagai potensi pendidik anak dalam mengembangkan karakter sesuai dengan nilai-nilai agama, norma dan etika yang dianutnya. Namun demikian tidak dapat dikatakan secara sederhana, bahwa dalam membangaun karakter dengan memilih keluarga sebagai titik masuk, maka semuanya akan menjadi baik.
Keluarga memang merupakan pranata yang paling baik untuk dipilih sebagai basis, tetapi keluarga saja tidak dapat sepenuhnya mencapai apa yang di cita-citakan. Di dalam teori maupun dalam praktek menghendaki adanya keterkaitan berbagai komponen yang lebih sinergis. Kedudukan keluarga sebagai konstelasi sosial budaya memerlukan dukungan berbagai pihak terutama sekolah tempat kedua anak mengenali teman-temannya dan masyarakat tempat anak bermain serta berinteraksi dengan berbagai macam karakter anak-anak lainnya.
Mengapa pendidikan karakter anak harus dimulai di dalam keluarga? Karena, untuk membentuk karakter anak secara mikro dalam wahana keluarga sebagai unit terkecil masyarakat, bergantung kepada nilai-nilai agama, norma-norma, etika dan akhlak mana yang akan ditanamkannya terhadap anak. Dari segi momentum waktu (timing), kapan (when) diberikan dan bagaimana cara (how to) mendidikkannya terhadap nilai-nilai agama, norma, etika dan akhlak itu kepada anak sangatlah menentukan. Berdasarkan pendapat para ahli pendidikan apabila memerhatikan tumbuh kembang anak, maka fase yang paling mengesankan bagi anak untuk diberikan pendidikan adalah di dalam keluarga sebelum mendapatkan pendidikan di sekolah dan di masyarakat.
Nilai-nilai untuk membentuk karakter anak melalui delapan fungsi keluarga yang meliputi fungsi agama, fungsi sosial-budaya, fungsi cinta-kasih, fungsi perlindungan, fungsi reproduksi, fungsi sosialisasi-pendidikan, fungsi ekonomi, dan fungsi lingkungan, sebaiknya ditanamkan sejak ujian dini. Hasil penjajagan lapangan (need assisment) yang berlangsung dari tanggal 23-28 September 2002 di 12 Provinsi, yaitu: (1) Aceh, (2) Riau, (3) Bengkulu, (4) Bali, (5) Sulawesi Utara, (6) Sulawesi Tengah, dan (7) Sulawesi Tenggara, (8) Jwa Barat, (9) DKI Jakarta, (10) Banten, (11) Kalimantan Timur, dan (12) Maluku. Hasilnya menunjukan bahwa nilai-nilai dasar karakter anak yang mesti dibentuk sejak usia dini oleh orangtua di dalam keluarga itu sangat penting.
Hasil penjajagan tersebut kemudian dirumuskan melalui Lokakarya yang diikuti oleh peserta dari 12 provinsi tersebut, menyimpulkan bahwa terdapat 40 nilai-nilai dasar karakter anak yang perlu ditanamkan dalam membentuk sikap, sifat, tindakan dan perilaku anak ke arah yang baik, yaitu: (1) Keimanan, (2) Ketaqwaan, (3) Kejujuran, (4) Tenggangrasa, (5) Bersyukur, (6) Rajin, (7) Kesalehan, (8) Ketaatan, (9) Suka Menolong, (10) Peduli, (11) Disiplin, (12) Sopan Santun, (13) Kesabaran, (14) Kasih Sayang, (15) Gotongroyong, (16) Kerukunan, (17) Kebersamaan, (18) Toleransi, (19) Kebangsaan, (20) Empati, (21) Akrab, (22) Adil, (23) Pemaaf, (24) Setia, (25) Pengorbanan, (26) Tanggungjawab, (27) Aman, (28) Tanggap, (29) Tabah, (30) Sehat, (31) Keteguhan, (32) Percaya Diri, (33) Luwes, (34) Rasa Bangga, (35) Kreatif, (36) Kerjasama, (37) Hemat, (38) Teliti, (39) Ulet, dan (40) Hidup Bersih.
B. Bagaimana Penerapan Nilai-nilai Karakter Anak
Penerapan nilai-nilai dasar karakter anak dalam keluarga supaya menjadi sikap, perilaku dan tindakan anak dalam menghadapi hidup dan kehidupan anak ke arah yang lebih baik sebagai berikut:

1. Keimanan
Apakah yang dimaksud dengan keimanan? Secara normatif keimanan adalah mempercayai dan meyakini terhadap enam rukun iman dalam agama Islam serta mengamalkan segala ajaran agamanya. Bagaimana ciri-ciri orang beriman? Orang beriman dapat dicirikan dengan: kemampuan berserah diri kepada Allah SWT dengan segala kesadarannya.
Bagaimana penanaman keimanan dalam keluarga? Negara Indonesia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Setiap warga negara wajib memeluk agama dan menjalankan ibadahnya. Iman merupakan fondasi keberagamaan seseorang. Tanpa keimanan, seseorang tidak akan menjalankan segala ajaran agamanya. Keimanan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, harus ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak usia dini, bahkan sejak bayi dalam kandungan.
Menanamkan keimanan dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan kemampuan orangtua untuk memberikan nilai-nilai keagamaan supaya dapat menjalankan segala ajaran agamanya dengan penuh kesadaran. Menerapkan keimanan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Keimanan adalah kebutuhan ruhani setiap manusia, karena dengan keimanan itu manusia bisa hidup tenteram dan sadar akan adanya yang lebih kuasa. Nilai-nilai keimanan ini dapat dipupuk terhadap anak-anak, misalnya: (1) membiasakan anak menjalankan ibadah secara bersama di rumah atau di Mesjid; (2) mengikuti dan mengajak anak pengajian; (3) melatih anak memberikan sedekah kepada orang yang tidak mampu; (4) selalu mengucapkan syukur atas segala keberhasilan (5) sabar ketika mendapatkan musibah dan sebagainya.
Orangtua bisa juga mengajak diskusi, dialog dengan anak yang berkaitan dengan masalah agama, misalnya: penyalahgunaan narkoba, perilaku seksual menyimpang, minuman keras dan sebagainya perbuatan yang melanggar keimanan. Menanamkan keimanan melalui cerita juga sangat baik, misalnya cerita tentang Malaikat, Nabi/Rasul, orang-orang shaleh dan sebagainya yang mempunyai perilaku dan memiliki nilai-nilai keagamaan. Dengan cara-cara ini, diharapkan anak kita mampu mengambil teladan, selain kita juga telah meneladani dalam perilaku sehari-hari untuk menjalankan segala ajaran agama.

2. Ketaqwaan
Apakah yang dimaksud dengan ketaqwaan? Ketaqwaan adalah mengamalkan segala yang diperintahkan dan menghindari segala yang dilarang Allah SWT. Bagaimana ciri-ciri orang bertaqwa? Orang bertaqwa dicirikan dengan kemampuan menjalankan segala perintah dan bersedia menghindari segala yang dilarang Allah SWT secara ikhlas.
Bagaimana menanamkan ketaqwaan pada anak dalam Keluarga? Ketaqwaan dan keimanan seseungguhnya bagaikan dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Belum sempurna keimanan seseorang bila tidak disertai ketaqwaan. Firma Allah SWT mengatakan: “orang yang paling mulya di sisi Tuhan adalah orang paling kuat ketaqwaannya”. Ungkapan ini mencerminkan, bahwa taqwa sebagai buah dari keimanan seseorang. Ketaqwaan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa, harus ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak usia dini setelah mengenal mana perbuatan baik dan buruk.
Menanamkan ketaqwaan dalam kehidupan keluarga , berkaitan dengan kemampuan orangtua untuk memberikan nilai-nilai keagamaan supaya anak dapat menjalankan segala yang diperintahkan dan bersedia menghindari atau meninggalkan segala apa yang dilarang Tuhannya. Menerapkan ketaqwaan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Ketaqwaan adalah buah dari keimanan yang harus tercermin dalam sikap dan perilaku kita sehari-hari, baik di rumah maupun di masyarakat. Orangtua sebaiknya menunjukan terhadap anak-anaknya perilaku ketaqwaan. Misalnya dengan menjalankan ibadah shalat, puasa, bertutur kata yang sopan, berperilaku yang santun.
Anak-anak kita mungkin termasuk yang rajin shalat, puasa, tetapi perilakunya belum menunjukan sikap ketaqwaan misalnya suka mengumpat orang, iri hati terhadap sesama, usil dengan perbuatan orang lain atau berburuk sangka. Sebaiknya orangtua memberikan bimbingan. Bisa saja anak-anak kita mempunyai perasaan iri hati terhadap keberhasilan teman sebayanya.
Menanamkan ketaqwaan bisa juga melalui cerita tentang Malaikat, Nabi/Rasul, orang-orang shaleh dan sebagainya yang mempunyai perilaku dan nilai-nilai ketaqwaan yang tinggi. Dengan cara-cara ini, diharapkan anak-anak kita mampu mengambil teladan, selain kita juga telah meneladani dalam perilaku sehari-hari untuk menjalankan segala perintah dan menghindari segala larangan Allah SWT.

3. Kejujuran
Apakah yang dimaksud dengan kejujuran? Kejujuran adalah memperoleh kepercayaan dari orang lain dengan melaporkan dan menyampaikan sesuatu apa adanya. Bagaimana ciri-ciri orang jujur? Orang jujur dapat dicirikan dengan: Kemampuan seseorang untuk mengatakan yang sebenarnya diminta atau tidak diminta tanpa kepentingan apa pun.
Bagaimana menanamkan sifat kejujuran terhadap anak dalam keluarga? Jujur merupakan salah satu dari empat sifat Rasuiullah SAW yang selalu diupayakan terhadap siapa saja, di manan pun dalam segala hal. Sifat kejujuran perlu ditanamkan oleh orangtua terhadap anak-anak kita sejak usia dini dalam keluarga maupun di masyarakat. Hilangnya sifat kejujuran akan menimbulkan saling curiga diantara kita, sehingga membuat hidup tidak tenteram.
Menanamkan sifat kejujuran dalam kehidupan keluarga berkaitan dengar kemampuan orangtua dan anak-anak kita untuk mengupayakan dan mengatakan yang sebenarnya serta mendorong orang lain juga untuk berbuat yang sama.
Menerapkan kejujuran dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Kejujuran harus bersifat utuh, tidak bisa sebagian atau sementara. Dalam sikap kejururan tidak ada plus-minus; kurang jujur atau terlalu jujur. Karenanya, tidak ada istilah agak jujur. Misalnya orang itu agak jujur dibanding temanya, Dengan ungkapan ini kejujuran tidak bersifat utuh. Jadi mana bisa separo jujur separo lagi kurang atau tidak jujur.
Untuk menanamkan kejujuran pada arak-anak, suatu saat kita dapat mempercayakan kepada anak-anak kita untuk membeli sesutu dengan uang berlebih dari harga yang diperkirakan. Kemudian sisa uangnya agar dikembalikan lagi. Kita dapat membiarkan beberapa saat, apakah sisa uangnya dikembalikan lagi segera atau tidak. Mungkin juga, kita selaku orangtua senantiasa bertanya tentang perilaku agamanya yang berkenaan dengan shalat lima waktu.
Dari pertanyaan-pertanyaan itu kita dapat memperhatikan, bagaimana anak-anak kita menjawab pertanyaan kita dengan mengungkapkan kata-kata, raut muka atau fakta yang sebenarnya. Kalau kelihatannya ada perilaku tidak jujur, maka kita sebagai orangtua segera memberi peringatan dan sampaikan dalam hal apa anak-anak kita tidak berlaku jujur. Setelah itu, kita harus memotivasi anak-anak kita agar senantiasa berlaku jujur terhadap siapa saja, di mana pun dalam segala hal.

4. Tenggangrasa
Apakah yang dimaksud dengan tenggangrasa? Tenggangrasa adalah menyadari bahwa setiap orang berbeda dalam sifat dan karakternya, keinginan dan kebutuhannya. Bagaimana ciri-ciri manusia memiliki sikap tenggangrasa?. Tenggangrasa dapat dicirikan dengan: Kemampuan seseorang untuk menghargai perbedaan dan menjaga kerukunan serta mendengar orang lain sebelum menyatakan pendapat.
Bagaimana menanamkan sikap tenggangrasa pada anak dalam keluarga? Tenggangrasa melahirkan kerukunan antar manusia antar umat beragama di masyarakat dalam memahami perbedaan dan mengerti perasaan umat atau orang lain. Sikap tenggangrasa ini perlu ditanamkan sejak kecil oleh orangtua kepada anak-anaknya dalam keluarga, agar anak-anak kita mempunyai kepekaan terhadap sesama dan lingkungan sekitarnya. Dengan adanya sikap tenggangrasa diantara kita akan terjalin kedamaian.
Menanamkan sikap tenggangrasa dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak kita untuk menghargai perbedaan dan menjaga kerukunan serta mendengar orang lain sebelum menyatakan pendapat.
Menerapkan kejujuran dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Bisa saja terjadi, ketika anak kita pulang sekolah kemudian mengeluhkan temannya yang mengalami musibah banjir. Sikap orangtua, sebaiknya mendengarkan dulu keluhannya. Kemudian kita ikut merasakan dan membantunya menyelesaikan masalahnya.
Melalui cara-cara ini sesungguhnya kita selaku orangtua telah berhasil menanamkan sikap tenggangrasa kita kepada anak-anak. Kebiasaan-kebiasaan kita mengunjungi orang sakit, membantu orang yang kena musibah atau suka mendengar keluhan anak-anak kemudian mendiskusikan keluhan itu akan memberi penguatan bagi kepribadian anak-anak kita agar memiliki sikap tenggangrasa.

5. Bersyukur
Apakah yang dimaksud dengan bersyukur? Bersyukur adalah menerima apa adanya dan menggunakan segala sesuatu itu sesuai dengan peruntukannya. Bagaimana ciri-ciri orang bersyukur? Orang bersyukur dapat dicirikan dengan: Kemampuan seseorang untuk berterima kasih kepada siapa pun atas pemberian tanpa mengingkari dan selalu menggunakan pemberian itu sesuai peruntukannya.
Bagaimana menanamkan sikap bersyukur pada anak dalam keluarga? Bersyukur dapat mendatangkan nikmat sedangkan kufur mendatangkan laknat, demikian pepatah agama mengatakan. Bersyukur atas segala pemberian mesti dibiasakan oleh orangtua terhadap anak-anaknya. Sikap bersyukur ini perlu ditanamkan sejak usia dini oleh orangtua kepada anak-anaknya dalam keluarga, agar anak-anak kita mempunyai rasa berterima kasih terhadap siapa pun dalam hidupnya.
Menanamkan sikap bersyukur dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak kita untuk selalu menerima apa adanya setiap pemberian dan membiasakan mengucapkan terima kasih serta menggunakan pemberian itu sesuai dengan peruntukannya tanpa mengingkari sedikit pun.
Orangtua dapat menanamkan sikap bersyukur terhadap anak-anak denga cara penteladanan, misalnya ketika kita minta tolong kepada anak-anak untuk membeli sesuatu, kita mesti mengucapkan terima kasih kepadanya.
Mungkin juga ketika anak-anak pulang sekolah memberikan sesuatu kepada kita, maka orangtua harus mengucapkan terima kasih kepada atas pemberian itu. Orangtua dapat mengajarkan rasa bersyukur ini juga kepada anak-anak kita, ketika kita memberikan sesuatu, apakah anak itu mengucapkan terima kasih atau tidak. Bila tidak, orangtua mesti mengingatkannya agar anak itu mengucapkan terima kasih.
Menerapkan rasa bersyukur dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Kita juga dapat mengajarkan rasa syukur kepada anak-anak kita dalam peristiwa tertentu. Misalnya ketika anak-anak berhasil menyelesaikan sekolahnya, kita dapat melibatkan diri dengan anak-anak untuk melakukan upacara syukuran kepada Allah SWT dengan mengadakan pengajian atau memberikan sedekah kepada orang lain. Melalui cara-cara ini sesungguhnya kita selaku orangtua telah berhasil menanamkan sikap bersyukur kita kepada anak-anak.

6. Berperilaku Rajin
Apakah yang dimaksud dengan berperilaku rajin? Berperilaku rajin adalah menyediakan waktu dan tenaga dalam menyelesaikan tugas dengan berusaha untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Bagaimana ciri-ciri orang berperilaku rajin? Orang rajin dicirikan dengan: melakukan tugas dengan baik dan benar, Selalu menyediakan waktu untuk menyelesaikan tugas serta bertanggungjawab atas pekerjaan yang diamanahkan atau bukan.
Bagaimana menumbuhkan perilaku rajin pada anak dalam keluarga? Ada pepatah mengatakan: “rajin pangkal pandai – hemat pangkal kaya”. Pepatah ini masih perlu dijadikan motivasi bagi anak-anak kita supaya terus berupaya memiliki sifat rajin. Orangtua yang bijak senantiasa memperhatikan kecenderungan sikap dan perilaku anak-anaknya. Apakah termasuk anak-anak yang rajin atau malas. Bila anak-anak cenderung menjadi pemalas, kewajiban kita memotivasi anak supaya menjadi anak yang berperilaku rajin.
Menumbuhkan sifat berperilaku rajin dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak, agar selalu berusaha dengan melakukan tugas dengan baik dan benar, selalu menyediakan waktu untuk menyelesaikan tugas serta bertanggungjawab atas pekerjaan.
Menerapkan perilaku rajin dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Mungkin kita selaku orargtua sering memperhatikan anak-anak kita tentang sifatnya, ada yang rajin atau malas. Anak yang berperilaku rajin akan selalu mengerjakan sesuatu tanpa disuruh orangtua, karena menganggap hal itu merupakan kewajiban atau kebutuhannya. Misalnya dalam menyelesaikan tugas sekolah, melaksanakan shalat saat masuk waktu shalat, belajar dan mengaji dilakukan secara rutin dan sebagainya.
Lain halnya dengan anak malas, bila mengerjakan tugas harus disuruh orangtua. Bila menghadapi yang demikian, sikap orangtua harus tetap memotivasi anak. Anak-anak juga harus dibiasakan dalam beberapa hal, misalnya: bangun tidur pagi tepat waktu subuh sekitar pukul 05.00; mengerjakan tugas-tugas di rumah sebelum pergi ke sekolah; olah raga pagi selama beberapa menit dan sebagainya. Dengan tindakan ini, sesungguhnya kita telah melibatkan terhadap kegiatan anak-anak agar senantiasa melaksanakan tugas sebagai pencerminan dari sifat berperilaku rajin.

7. Kesalehan
Apakah yang dimaksud dengan kesalehan? Nilai Kesalehan adalah moral yang tinggi dengan melakukan sesuatu yang benar secara konsisten. Bagaimana ciri-ciri kesalehan? Kesalehan dapat dicirikan dengan: kemampuan seseorang yang selalu menjaga diri dari perilaku yang tidak baik. Bersih lahir dan batin serta ingin memperlakukan orang lain seperti dirinya ingin diperlakukan.
Bagaimana menanamkan citra kesalehan pada anak dalam keluarga? Kesalehan merupakan nilai moral yang tinggi dalam keberagamaan seseorang. Sekarang ini muncul tuntutan masyarakat terhadap seseorang akan adanya kesalehan sosial. Karenanya perilaku kesalehan tidak hanya dinikmati oleh dirinya sendiri, tetapi harus dirasakan oleh masyarakat sekitar. Hal ini perlu menjadi perhatian kita selaku orangtua untuk menanamkan citra kesalehan itu terhadap anak-anak yang menjadi tanggungjawab kita.
Menanamkan citra kesalehan dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kewajiban orangtua terhadap anak-anaknya agar tetap menjaga diri dari perilaku yang baik serta memperlakukan orang lain seperti dirinya ingin diperlakukan.
Menerapkan citra kesalehan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Penerapan citra kesalehan ini dapat dimulai dari keluarga dengan membiasakan anak-anak kita selalu tetap melakukan perbuatan-perbuatan yang baik dan benar. Ketika anak-anak kita melakukan kesalahan, segera diluruskan secara bijaksana dengan memberitahukan kesalahannya. Misalnya saat bermain dengan teman sebayanya anak kita bebuat nakal, sikap orangtua harus menegurnya.
Orangtua dapat juga membicarakannya dengan anak-anak kita melalui percontohan-percontohan tentang perilaku yang mesti dijauhi serta akibat-akibatnya, misalnya: bercerita tentang akibat minuman keras, narkotik dan sebaginya, bercerita tentang orang-orang bijak yang dapat dijadikan panutan, tidak menyakiti orang lain, tidak berburuk sangka, tidak iri terhadap keberhasilan orang lain dan sebagainya.
Melalui cara-cara ini sesungguhnya kita selaku orangtua telah menanamkan citra kesalehan kepada anak-anak, sehingga akan menjadi kebiasaan-kebiasaan yang selalu dilakukan, kapan saja dan dimana pun juga terhadap siapa pun dalam hidup dan kehidupan.

8. Ketaatan
Apakah yang dimaksud dengan ketaatan? Dengan Ketaatan adalah segera dan senang hati melaksanakan apa yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya. Bagaimana ciri-ciri ketaatan? Ketaatan dapat dicirikan dengan: menjalankan kewajiban agama, mengikuti aturan, melaksanakan pekerjaan dengan segera dan senang hati lebih dari yang diharapkan.
Bagaimana pencerminan sikap ketaatan pada anak dalam keluarga? Ketaatan merupakan sikap terpuji sebagai pencerminan dari orang yang mempunyai akhlakulkarimah. Setiap orang mendambakan anak-anaknya menjadi orang yang taat, baik kepada orantua maupun terhadap Tuhannya sang penciptanya. Sebaiknya orangtua menanamkan sifat ketaatan ini sejak usia dini yang dimulai dari keluarga.
Pencerminan sikap ketaatan dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan sikap dan perilaku orangtua atau anak-anak dapat menjalankan kewajiban agama, mengikuti aturan, melaksanakan pekerjaan dengan segera dan senang hati iebih dari yang diharapkan.
Menerapkan ketaatan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Pencerminan sikap ketaatan bisa diawali dalam keluarga dengan memperhatikan kebiasaan anak-anak kita dalam menjalankan ibadah sebagai kewajibannya terhadap Tuhannya. Melaksanakan dengan segera tugas-tugas dirumah tanpa diperintah orangtua. Bila hal ini tidak dilakukan, maka sikap orangtua harus memberikan pembimbingan, misalnya: “kenapa hari ini tidak ngaji, biasakan ngaji setiap hari walaupun se-ayat, agar mendapatkan pahala”. Bisa juga, kita selaku orangtua mengajak anak-anak kita pergi ke mesjid bersama-sama untuk menunjukan sikap ketaatan kita kepada sang Pencipta.
Sikap ketaatan anak-anak biasanya agak berbeda dengan remaja. Pada anak-anak sikap ketaatan sangat polos, ia akan mengikuti apa yang diperintahkan orangtuanya. Lain halnya dengan remaja, sikap ketaannya harus berdasarkan pengertian dan kemanfaatan yang dirasakannya. Namun demikian, dengan cara-cara diatas sesungguhnya kita telah menunjukan, menteladani terhadap anak-anak kita supaya berperilaku dan bersikap taat dalam segala hal.

9. Suka Menolong
Apakah yang dimaksud dengan suka menolong? Suka menolong adalah kebiasaan membantu orang lain tanpa mengharapkan imbalan. Bagaimana ciri-ciri orang suka menolong? Orang yang suka menolong dapat dicirikan dengan: kesukaan seseorang dalam membantu, berkorban bagi orang lain tanpa mengharapkan imbalan orang yang dibantunya.
Bagaimana menanamkan sifat suka menolong pada anak dalam keluarga? Sabda Rasulullah SAW mengatakan bahwa “tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah”. Orang yang memberi lebih baik daripada orang yang dibantu”. “Kalimat ini dapat diartikan, bahwa orarg yang suka membantu lebih baik daripada orang yang dibantu. Membantu orang lain yang dilandasi dengan keikhlasan sebagai cerminan dari ajaran agama sangat disukai Allah. Seseorang yang suka membantu orang lain, Allah akan memberi balasan lebih dari apa yang dikeluarkan orang itu.
Menanamkan sifat suka membantu dalam kehidupan keluarga, berhubungan dengan kemauan orangtua dan anak-anaknya untuk selalu siap mengulurkan tangan dalam membantu orang lain tanpa pamrih, tidak berharap mendapat imbalan dari orang yang dibantunya.
Menerapkan perilaku suka menolong dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Allah SWT menciptakan manusia sangat beragam keberadaannya. Ada orang yang hidup berkecukupan, ada yang serba kekurangan. Semuanya merupakan ujian dan karunia-Nya, agar setiap orang dapat menyikapinya secara baik. Demikian juga hidup dalam keluarga atau di masyarakat tidak selamanya mulus dalam segala hal. Terkadang selalu terjadi kekurangan, terjadinya bencana alam dan sebagainya yang membuat kita butuh bantuan orang lain. Dengan adanya sifat suka membantu diantara sesama, maka setiap permasalahan yang timbul bisa diatasi bersama.
Untuk menanamkan sifat suka menolong dari orangtua terhadap anak-anak, kita bisa mengajak anak-anak kita berkunjung ke Panti Yatim Piatu dan tempat lainnya yang memerlukan pertolongan. Berikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk memberikan sesuatu yang telah disiapkan sebelumnya.
Mungkin saja anak-anak kita, ketika pulang sekolah, mengadukan sesuatu kepada kita, bahwa temannya ada yang sakit, dan sedang di rumah sakit. Sikap orangtua tentu saja harus memberikan dorongan terhadap sikap anak-anak itu agar segera menengoknya.
Demikian juga dalam hidup keseharian di rumah, kita selaku orangtua bersama anak-anak selalu saling membantu dengan membiasakan menyelesaikan pekerjaan di rumah, dengan harapan, sikap suka membantu ini menjadi kepribadian anak-anak kita.

10. Sikap Peduli
Apakah yang dimaksud dengan sikap peduli? Sikap peduli adalah menanggapi perasaan dan pengalaman orang lain. Bagaimana ciri-ciri Orang peduli? Kepedulian dapat dicirikan dengan: upaya mengakui keberadaan dan merasakan penderitaan orang lain untuk memberikan bantuan tanpa membedakan suku, agama dan perbedaan jender.
Bagaimana menumbuhkan sikap kepedulian pada anak dalam keluarga? Sikap peduli terhadap sesama umat manusia dalam agama manapun selalu dinilai baik. Sebaiknya setiap anggota keluarga atau masyarakat mempunyai sikap kepedulian terhadap siapa saja tanpa menbedakan suku, agama dan jender. Dengan adanya kepedulian terhadap sesama akan melahirkan keseimbangan hidup dalam keberagamaan seseorang untuk mendapatkan keridoan dari Allah SWT.
Menumbuhkan sikap peduli dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan bimbingan orangtua terhadap anak-anak agar mengakui keberadaan dan merasakan penderitaan orang lain untuk memberikan bantuan tanpa membedakan suku, agama dan perbedaan jender.
Menerapkan sikap peduli dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Keberadaan manusia di dunia pasti berbeda dalam segala hal. Begitu pun dalam hidup di masyarakat akan diwarnai oleh perbedaan secara sosial, ekonomi, budaya dan agama. Bagaimana kita dapat peduli terhadap perbedaan itu dalam keluarga maupun di masyarakat.
Mungkin Kita mempunyai dua orang anak, kakaknya cerdas sedangkan adiknya biasa-biasa saja. Suatu ketika adiknya mengeluh pada orantuanya, karena tidak bisa menyelesaikan PR pelajaran Agama. Sikap orangtua dapat menengahi permasalahan ini dengan minta bantuan pada kakaknya untuk mengajari adiknya menyelesaikan PR.
Bisa juga kita mengajak anak-anak kita ke kelompok bermain mengumpulkan baju-baju bekas layak pakai, atau menampung makanan. Setelah terkumpul, orangtua bersama anak-anaknya menyerahkan pakaian/makanan tadi untuk diberikan langsung oleh anak-anak kita terhadap tatangga, teman-teman sebayanya, atau Panti Sosial yang ada.
Dengan mengajak, menyontohkan, menyarankan ini, sebenarnya orangtua telah menanamkan sikap peduli anak-anak kita terhadap sesama untuk ikut merasakan keberadaan orang lain tanpa mengharap imbalan dari apa yang telah kita berikan. Semuanya kita berikan dengan penuh ikhlas karena sikap kepedulian.

11. Disiplin
Apakah yang dimaksud dengan disiplin? Disiplin adalah menepati waktu, mematuhi aturan yang telah disepakati. Bagaimana ciri-ciri orang disiplin? orang disiplin dapat dicirikan dengan: kemampuan menepati waktu, menaati aturan-aturan yang disepakati bersama.
Bagaimana pencerminan sikap disiplin pada anak dalam keluarga? Disiplin merupakan sikap yang mesti tertanam dalam pribadi seseorang. Setiap anggota keluarga sebaiknya menjadi manusia disiplin. Dengan disiplin semuanya menjadi tertib dan lancar. Orangtua seyogyanya menerapkan sikap disiplin ini sejak usia dini yang dimulai dalam keluarga, agar anak-anak terbiasa hidup disiplin di mana saja dan kapan saja.
Pencerminan sikap disiplin dalam kehidupan keluarga, berhubungan dengan ketepatan dan keteraturan kita dalam memanfaatkan waktu, tidak melanggar aturan sesuai kesepakatan.
Menerapkan sikap disiplin dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Agama manapun selalu menuntut umatnya agar bersikap disiplin dalam segala hal. Islam mengajarkan sikap disiplin melalui perilaku ibadah. Misalnya shalat harus dikerjakan diawal waktu. Untuk menanamkan sikap disiplin di rumah, orangtua bersama anak-anak bisa melakukan shalat berjamaah tepat waktu.
Mungkin juga anak-anak kita mempunyai jadual rutin kegiatan Remaja Masjid seriap malam jum’at, membersihkan halaman rumah setiap hari minggu. Kewajiban orangtua adalah memantau, apakah jadual itu dilaksanakan atau tidak. Bila tidak dilaksanakan, kita dapat mengingatkannya. Dengan melibatkan anak-anak, menyarankan atau menyontohkan diharapkan anak-anak kita mempunyai kepribadian disiplin tinggi.

12. Sopan Santun
Apakah yang dimaksud dengan sopan santun? Sopan santun adalah perilaku yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai agama. Bagaimana ciri-ciri orang sopan santun? Orang sopan dan santun dapat dicirikan dengan: kesediaan seseorang untuk menghargai dan menghormati orang lain dengan berperilaku yang sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai agama.
Bagaimana pencerminan sikap sopan-santun pada anak dalam keluarga? Setiap orang pada dasarnya ingin selalu dihargai/dihormati orang lain, sekalipun dengan sapaan “hallo” atau “hai” apa kabar. Sapaan dengan mengucapkan “salam” ketika bertemu dengan orang lain di mana saja merupakan pencerminan sopan-santun yang diajarkan Islam. Sikap sopan-santun sebaiknya diajarkan oleh orangtua kepada anak-anaknya sejak dari rumah. Terlebih kita sebagai orangtua mesti memperlihatkan kepada anak-anak kita, untuk bersikap sopan dalam berperilaku dan santun dalam berkata, supaya anak-anak kita menirukannya.
Penumbuhan sikap sopan-santun dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan kemampuan orangtua untuk mengajarkan anak-anaknya, agar bersikap sopan santun terhadap orang lain dengan kesediaan menghargai, menghormati orang lain, berperilaku sesuai dengan norma-norma dan nilai-nilai agama yang kita anut.
Menerapkan sopan santun dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Untuk menanamkan sikap sopan santun bisa diawali oleh kita sebagai orangtua, misalnya ketika datang akan masuk rumah Kita ucapkan salam. Begitu pun ketika kita akan pergi bekerja, kita sebaiknya pamit terhadap anak-anak. Dalam pergaulan dan berkomuniKasi diantara anggota keluarga di rumah. Misalnya, ketika kita meminta bantuan kepada anak-anak sebaiknya orangtua tidak bersifat menyuruh. Bisa saja kita menggunakan kata “Tolong”, kemudian mengucapkan terima kasih sebelum atau sesudahnya.
Dengan sikap kita, seperti meminta tolong ketika menyuruh, pamitan ketika pergi dan mengucapkan salam ketika datang dapat mencerminkan perilaku kita yang sopan dan santun terhadap anak-anak kita. Cara-cara inilah sesungguhnva akan menjadi kepribadian sopan santun anak-anak kita dimana saja, kapan saja dan terhadap siapa saja.
13. Kesabaran
Apakah yang dimaksud dengan kesabaran? Kesaabaran adalah menahan diri untuk menginginkan sesuatu atau dalam menghadapi kesulitan. Bagaimana ciri-ciri orang sabar? Orang sabar dapat dicirikan dengan: kesediaan seseorang untuk menunggu secara tenang, tidak cepat puas dan tidak mudah marah dalam menginginkan sesuatu sambil terus berupaya.
Bagaimana menanamkan sikap kesabaran pada anak dalam keluarga? Pepatah agama mengatakan: nSabar itu pemberani”. Ungkapan itu dapat diartikan bahwa yang disebut orang “hebat” itu adalah orang yang sabar. Sabar karena berkemampuan mengendalikan hawa nafsu atau emosional ketika menginginkan sesuatu dan menghadapi kesulitan. Dengan kesabaran segalanya akan dilalui secara baik. Karenanya sikap kesabaran ini semestinya ditanamkan oleh orangtua kepada anak-anak kita sejak dini yang dimulai dari rumah.
Menanamkan sikap sabar dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan kemampuan orangtua atau anak-anak bersedia menahan diri ketika menginginkan sesuatu dan menghadapi kesulitan secara tenang, tidak cepat puas serta tidak mudah marah.
Menerapkan kesabaran dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Saat ini, sikap sabar hampir hilang dalam benak anak-anak kita. Hal ini tercermin ketika menginginkan sesuatu selalu ingin secara langsung ada. Misalnya ketika anak-ana kita menginginkan baju baru, memintanya dengan cara merengek-rengek. Sikap orangtua menghadapi anak begini sebaiknya menyadarkan.
Perilaku sabar juga bisa tercermin dalam berperilaku dengan tidak bertindak gegabah, asal-asalan yang penting selesai. Misalnya anak-anak kita sedang menyelesaikan vugas sekolah atau pekerjaan dirumah, kita dapat memperhatikannya, apakah berlaku tenang atau malah penuh emosional. Sikap orangtua sebaiknya membimbing dengan memberi penguatan.
Mungkin juga kita, apakah orangtua atau anak-anak terkadang menghadapi kesulitan dalam melakukan sesuatu, kita harus mampu menunjukan kesabaran dalam bertindak, berperilaku. Dengan sikap kita, selalu menyadarkan, memberikan dukungan moril dan berperilaku tidak emosional, sesungguhnya kita telah menanamkan sikap kesabaran terhadap anak-anak kita, agar memiliki kepribadian yang handal.

14. Kasih Sayang
Apakah yang dimaksud dengan kasih-sayang? Kasih saying adalah ungkapan perasaan dengan penuh perhatian, kesadaran dan kecintaan terhadap seseorang. Bagaimana ciri-ciri kasih-sayang? Orang yang bersikap kasih-sayang dicirikan dengan adanya perhatian yang tulus dan rela berkorban untuk orang lain diminta atau tidak.
Bagaimana menumbuhkan rasa kasih-sayang pada anak dalam keluarga? Semua agama mengajarkan kepada umatnya supaya mempunyai rasa kasih-sayang antara sesama. Pepatah agama mengatakan: “kasihilah orang lain seperti mengasihi dirimu sendiri”. Ungkapan itu memberi arti bahwa rasa kasih-sayang merupakan kebutuhan setiap orang. Kita sebagai orangtua memerlukan kasih-sayang dari orang lain. Begitu pun anak-anak kita, memerlukan kasih-sayang dari orangtua dan di sekitarnya yang tulus dan ikhlas.
Menumbuhkan rasa kasih-sayang dalam kehidupan keluarga, berhubungan dengan kemampuan orangtua memberikan perhatian penuh secara tulus dan ikhlas serta kerelaan berkorban untuk kepentingan anak-anaknya.
Menerapkan sikap kasih sayang dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Kasih-sayang adalah kebutuhan ruhani setiap manusia. Orangtua maupun anak-anak memerlukan kasih-sayang. Tanpa kasih-sayang diantara kita hidup terasa gersang. Untuk menumbuhkan rasa kasih-sayang, orangtua dapat memulai dengan memberi perhatian pada anak-anaknya. Misalnya ketika masih bayi, kita sering membelainya, menciumnya dan bercanda sebagai bagian dari kasih sayang.
Ketika anak kita menangis, orangtua tidak boleh bersikap kasar. Sebaiknya memberi perhatian dengan bertanya. Jadi, orangtua mendengarkan kebutuhan anak, kemudian membantunya. Pada anak remaja, kebutuhan kasih sayang akan lebih spesial lagi. Remaja tidak hanya membutuhkan kasih-sayang di rumah oleh orangtuanya, melainkan juga dari orang lain yang lebih khusus. Bisa saja saat pulang sekolah, remaja kita bersikap murung, tak bersemangat, kurang bergairan. Sikap orangtua harus memberi perhatian dengan cara mendengarkan keluhannya. Setelah beberapa lama kita mencoba mendekati kembali untuk membicarakannya dengan remaja bila menghendaki.
Dengan cara kita, selalu menyadarkan, memberikan perhatian penuh terhadap segala masalah anak-anak kita, sesungguhnya kita telah menanamkan rasa kasih-sayang terhadap anak-anak kita, sehingga memiliki kepribadian yang tangguh.
15. Gotongroyong
Apakah yang dimaksud dengan gotongroyong? Gotongrorong adalah melakukan pekerjaan secara bersama-sama yang dilandasi oleh sukarela dan kekeluargaan. Bagaimana ciri-ciri bergotongroyong? Goroyong dapat dicirikan dengan adanya: saling menolong sesama dan melakukan pekerjaan tanpa mengaharapkan imbalan.
Bagaimana membangkitkan jiwa gotongroyong pada anak dalam keluarga? Saat ini jiwa gotongroyong hampir hilang di hati masyarakat kita. Padahal gotongroyong sesungguhnya merupakan jiwa dan falsafah bangsa Indonesia yang sudah tertanam sejak dulu. Segala sesuatu yang berkaitan dengan pekerjaan kemasyarakatan selalu dilakukan oleh masyarakat kita secara bergotongroyong. Bekerja tanpa pamrih yang dilandasi kesukurelaan dan kekeluargaan. Jiwa inilah yang harus ditanamkan orangtua kepada anak-anak kita yang dimulai dalam kelaurga.
Membangkitkan jiwa gotongroyong dalam kehidupan keluarga berkenaan dengan kesediaan orangtua dan anak-anak untuk saling tolong menolong diantara sesama, melakukan pekerjaan tanpa pamrih yang didasarkan kesukarelaan dan kekeluargaan.
Menerapkan jiwa bergotongroyong dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan jiwa gotongroyong terhadap anak-anak supaya menjadi kebiasaan dengan penteladanan dan melibatkan anak-anak. Di rumah biasanya banyak pekerjaan yang harus dilakukan, apakah membersihkan halaman, menyapu rumah memindahkan barang-barang atau menata peralatan rumah tangga. Pekerjaan ini mungkin bisa dilakukan sendiri, namun sebaiknya melibatkan anak-anak untuk membangkitkan jiwa gotongroyong.
Mungkin saja anak-anak kita mempunyai keinginan yang sama untuk memindahkan meja belajarnya, menata kamar tidurnya, kita juga dapat menawarkan bantuan kepada anak. Dalam keluarga, orangtua juga dapat membagi tugas yang merata terhadap anak-anak kita. Diupayakan ada pekerjaan yang mesti dilakukan bersama-sama, misalnya membabat rumput membersihkan halaman, mengepel lantai dan sebagainya.
Menanamkan jiwa gotongroyong ini dapat diperluas lagi ketika ada kerja bakti di lingkungan masyarakat atau di sekolah. Orangtua bisa saja membiarkan anak-anak untuk melihat sejauh mana jiwa gotongrongnya telah tertanam dalam hati anak atau belum. Jika belum maka sebaiknya kita menyarankan atau mengajak gotongroyong dalam kegiatan kemasyarakatan.

16. Kerukunan
Apakah yang dimaksud dengan kerukunan? Kerukunan adalah hidup berdampingan dalam keberagaman secara damai dan harmonis. Bagaimana ciri-ciri orang rukun? Orang rukun dapat dicirikan dengan: Kesediaan seseorang untuk menghargai perbedaan, tidak bermusuhan serta menjaga persatuan dan kesatuan di mana pun berada.
Bagaimana menumbuhkan sikap kerukunan pada anak dalam keluarga? Sikap manusia sesungguhnya selalu ingin hidup rukun dan berdampingan bersama walaupun dalam perbedaan. Kerukunan dalam perbedaan dan hidup bersama berdampingan merupakan anugerah Tuhan yang perlu disyukuri oleh kita bersama. Masyarakat kita terdiri dari berbagai jenis suku, agama, adat dan budaya sebagai kekayaan nusantara yang harus dijaga kerukunannya. Sikap ingin hidup rukun saat ini perlu diupayakan oleh setiap anggota keluarga.
Menanamkan sikap rukun dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan upaya orangtua dan anak-anak agar mau dan mampu menghargai perbedaan dalam hidup, tidak saling bermusuhan dan menjaga persatuan serta kesatuan dalam keluarga dan di masyarakat.
Menerapkan sikap rukun dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan sikap rukun dari orangtua terhadap anak-anak agar menjadi perilaku biasa dengan cara penteladanan yang dimulai oleh orangtua di rumah. Suami dan isteri selalu menunjukan hidup rukun, walaupun terdapat perselisihan paham dapat menyelesaikannya secara baik-baik.
Mungkin diantara anak-anak kita di rumah atau dengan tetangga terjadi perselisihan, sikap orangtua harus selalu berusaha mendamaikan mereka. Orangtua bisa juga menerapkan sikap kerukunan ini, melibatkan anak-anak, misalnya dengan mengajak mereka bermain bersama dengan anak-anak tetangga sebayanya tanpa membedakan satu dengan lainnya.
Kemungkinan bisa saja terjadi, saat anak kita pulang sekolah, cerita tentang temannya yang tidak saling bertegur sapa selama beberapa hari. Sikap orangtua sebaiknya menyarankan kepada anak-anak kita agar berusaha mendamaikan temannya.
Sikap rukun antar sesama ini, orangtua dapat membicarakannya bersama anak-anak yang berkaitan dengan perbedaan sifat, watak dan tabiat seseorang. Adanya aneka ragam sosial dan budaya di masyarakat di sekita kita, sehingga dengan perbedaan ini, anak-anak selalu menjaga kerukunan.

17. Kebersamaan
Apakah yang dimaksud dengan kebersamaan? Kebersamaan adalah perasaan bersatu, sependapat dan sekepentingan. Bagaimana ciri-ciri kebersamaan? Kebersamaan dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang untuk setia pada keluarga, teman dan kelompok untuk seia-sekata dalam suka dan duka.
Bagaimana menumbuhkan sikap kebersamaan pada anak dalam keluarga? Kebersamaan merupakan bagian dari kerukunan yang selalu didambakan oleh semua orang di mana saja berada. Saat ini sikap kebersamaan masyarakat kita semakin longgar dengan adanya pengaruh kebudayaan barat yang cenderung bersikap individual.
Sikap kebersamaan mesti tertanam dalam pribadi setiap anggota keluarga yang dimulai dalam rumah, kemudian melebar di lingkungan masyarakat. Apabila hidup dalam keluarga ada kebersamaan diantara anggota keluarga, maka segala beban hidup akan terasa lebih ringan.
Menumbuhkan sikap kebersamaan dalam kehidupan keluarga berhubungan dengan kesediaan orangtua dan anak-anak adanya perasaan bersatu, sependapat, sekepentingan, sejalan dalam berfikir dan berbuat.
Menerapkan sikap rukun dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara: yaitu (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan sikap kebersamaan oleh orangtua terhadap anak-anak di rumah bisa melalui penteladanan dan kerjasama. Misalnya, ketika orangtua harus bekerja menyelesaikan tugas atau pekerjaan di rumah seperti masak, menata ruangan, membersihkan rumah dan sebagainya, anak-anak kita dapat dilibatkan agar membantunya.
Perkumpulan arisan dapat dijadikan ajang kebersamaan, apakah di lingkup keluarga atau lingkup tetangga. Orangtua dapat mengajak sekaligus melibatkan anak-anak untuk mengikuti acara arisan. Kebersamaan bisa juga diterapkan dalam perkumpulan atau organisasi di masyarakat seperti Karang Taruna, Remaja Mesjid, kelompok bermain Balita yang mencerminkan kebersamaan. Bila anak-anak kita tidak ikut kegiatan, sebaiknya orangtua menyarankannya.
Kebersamaan juga dapat dicerminkan dengan adanya pemberian tugas dan tanggungjawab kepada setiap anggota keluarga. Dengan cara ini, orangtua dapat mengevaluasi, apakah setiap anggota keluarga melaksanakan tugas atau tidak. Kalau ya berikan pujian kepada anak-anak, paling tidak ucapan terima kasih. Bila tidak mengerjakan, orangtua agar menasehatinya supaya anak-anak terbiasa melakukannya.

18. Toleransi
Apakah yang dimaksud dengan toleransi? Toleransi adalah bersikap menghargai pendapat dan pendirian yang berbeda atau bertentangan dengan pendapat dan pendirian sendiri. Bagaimana ciri-ciri orang toleran? Toleransi dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang untuk menerima dan menghargai perbedaan pendapat, sikap, kepercayaan, sosial, agama dan budaya.
Bagaimana menumbuhkan sikap toleransi pada anak dalam keluarga? Toleransi merupakan bagian dari kebersamaan yang dapat menjamin hidup rukun dan damai walaupun di dalamnya terdapat perbedaan-perbedaan. Dewasa ini sikap toleran terhadap sesama mesti dtumbuhkan kembali dari orangtua kepada anak-anaknya yang dimulai dari keluarga.
Apabila hidup dalam keluarga atau di masyarakat ada yang berbeda, maka dengan adanya sikap toleransi diantara kita, kerukunan, kebersamaan akan tetap terjaga. Menumbuhkan sikap toleransi dalam kehidupan keluarga berhubungan dengan kemampuan orangtua dan anak-anaknya untuk menghargai pendirian yang berbeda sekalipun bertentangan dengan pendirian sendiri dalam situasi tertentu, agar menjadi orang yang dapat menerima perbedaan dalam segala hal.
Menerapkan sikap toleransi dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan sikap toleransi dari orangtua terhadap anak-anak di rumah bisa melalui penteladanan. Setiap anak lahir dengan sifat, watak, kemauan dan hobi yang berbeda. Ketika terjadi perbedaan dalam segala hal diantara anak-anak kita, maka sikap orangtua harus mampu menyelaraskan perbedaan itu menjadi kekuatan dengan sikap toleransi.
Begitupun dalam kehidupan di masyarakat akan diwarnai oleh banyak perbedaan sosial budaya. Dengan adanya penguatan sikap toleransi di rumah pada anak-anak kita, maka ketika melihat perbedaan itu, anak-anak sudah siap dan mampu menerimanya serta menghargai pendapat dan sikap orang lain walaupun berbeda.
Menanamkan sikap toleransi juga dapat dilakukan melalui rekreasi bersama anak-anak kita ketempat rekreasi terdekat. Pada saat itu, orangtua dapat menanamkan sikap toleransi anak-anaknya dengan menceritakan sejarah, perbedaan budaya dan sebagainya.
Perkumpulan atau kelompok bermain, dapat juga dijadikan sebagai sarana menanamkan sikap toleransi bagi anak-anak. Kita dapat melihat bagaimana anak-anak bisa hidup berdampingan, bercanda bersama, dan saling mengenal orang lain sebayanya, tanpa adanya kekhawatiran.

19. Kebangsaan
Apakah yang dimaksud dengan Kebangsaan? Kebangsaan adalah kesadaran diri sebagai warga negara Indonesia yang harus menjunjung tinggi harkat dan martabat bangsa. Bagaimana ciri-ciri Kebangsaan? Kebangsaan dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang untuk menghargai nilai-nilai sejarah kepahlawanan, mencintai produksi sendiri, menyadari adanya pengaruh global terhadap kehidupan bermasysrakat, berbangsa dan bernegara.
Bagaimana menanamkan jiwa kebangsaan pada aspek sosial-budaya dalam keluarga? Terdapat slogan yang menyatakan: “Aku bangga jadi orang Indonesia”. Ungkapan itu menyatakan adanya jiwa kebangsaan dalam diri kita yang harus menghargai, mengutamakan dan menyintai bangsa sendiri.
Saat ini jiwa kebangsaan kita dirasakan mulai pudar setelah arus globalisasi kian merasuk ke dalam keluarga. Hal ini sebagai tantangan kita selaku orangtua untuk menanamkan kembali jiwa kebangsaan ini terhadap anak-anak.
Menanamkan jiwa kebangsaan dalam kehidupan keluarga berhubungan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak untuk menghargai nilai-nilai sejarah kepahlawanan, menyintai produksi dalam negeri dan menyadari adanya pengaruh globalisasi terhadap kehidupan.
Menerapkan sikap kebangsaan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Penerapan rasa kebangsaan dari orangtua terhadap anak-anak di rumah bisa melalui penteladanan secara langsung, melibatkan dan kerjasama dengan anak-anak dalam kegiatan hari-hari besar nasional dan sebagainya. Untuk menanamkan jiwa kebangsaan ini, orangtua dapat mengajak anak-anaknya:
 Mengunjungi tenpat-tempat bersejarah atau mengikuti upacara ziarah ke makam Pahlawan;
 Mengikuti atau menghadiri upacara bendera 17 Agustus atau hari-hari besar nasional lainnya;
 Mengenalkan dan menyanyikan lagu-lagu kebangsaan, seperti Garuda Pancasila, Padamu negeri, Halo-halo Bandung dan sebagainya;
 Mengajarkan bahasa Indonesia yang baik dan benar di rumah, selain juga bahasa Asing lainnya;
 Membeli dan menggunakan produksi dalam negeri, kalau ada produksi masyarakat sekitar;
 Menceritakan kepahlawanan atau cerita rakyat daerah;
Menanamkan jiwa kebangsaan juga dapat dilakukan dengan membandingkan sifat, watak, sosial dan budaya bangsa lain yang berbeda. Orangtua dapat menceritakan dari segi keunggulan dan kelemahannya, sehingga dapat menggugah anak-anaknya untuk tetap memiliki jiwa kebangsaan yang baik.

20. Empati
Apakah yang dimaksud dengan empati? Empati adalah memahami dan mengerti akan perasaan orang lain. Bagaimana ciri-ciri empati? Empati dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang mengenali perasaan orang lain serta adanya keinginan membantu orang lain.
Bagaimana menanamkan rasa empati pada anak dalam keluarga? Empati merupakan kesejatian seseorang dalam memahami dan mengerti perasaan orang lain. Sikap empati ini perlu ditanamkan sejak kecil oleh orangtua kepada anak-anaknya, agar anak-anak kita mempunyai kepekaan terhadap sesamanya. Tidak mungkin bisa terjalin cinta-kasih diantara kita tanpa adanya rasa empati.
Menanamkan rasa empati dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak kita untuk mengenali perasaan serta adanya keinginan membantu orang lain yang dilandasi cinta-kasih.
Menerapkan sikap empati dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Orangtua dapat menanamkan rasa empati terhadap anak-anak melalui berbagai cara misalnya pencontohan, keterlibatan, penguatan, kerjasama dan evaluasi merupakan cara terbaik. Suatu saat kita dapat mengajak anak-anak kita berkunjung ke rumah tetangga atau saudara.
Bisa saja terjadi, ketika anak kita pulang sekolah kemudian mengeluh kepada kita, sebaiknya didengarkan dulu keiuhannya, kemudian kita ikut merasakan dan membantunya menyelesaikan masalahnya.
Melalui cara-cara ini sesungguhnya kita selaku orangtua telah berhasil menanamkan perasaan empati kita kepada anak-anak. Kebiasaan-kebiasaan kita mengunjungi orang sakit, melayat tetangga yarg meninggal dunia atau suka mendengar keluhan anak-anak kemudian mendiskusikan keluhan itu akan memberi penguatan bagi kepribadian anak-anak kita menjadi manusia empati terhadap sesama yang dilandasi oleh cinta-kasih.

21. Kedekatan
Apakah yang dimaksud dengan kedekatan? Kedekatan adalah hubungan yang dilandasi oleh rasa kebersamaan dan kedekatan perasaan. Bagaimana ciri-ciri kedekatan? Kedekatan dapat dicirikan dengan adanya saling menberi perhatian, dapat menikmati kebersamaan serta memiliki rasa persahabatan.
Bagaimana pencerminan sikap kedekatan pada anak dalam keluarga? Orang bijak mengatakan, Jauh dimata dekat dihati. Peribahasa ini dapat diartikan: bersama tidak berarti dekat. Bisa saja kita hidup bersama keluarga, saudara atau tetangga, tetapi tidak selalu dekat. Bersatu tetapi berpisah bagaikan air dan minyak. Karenanya kedekatan diantara orangtua dan anak-anak harus dipupuk sejak usia kecil yang dimulai dari keluarga.
Pencerminan sikap kedekatan dalam kehidupan keluarga berkenaan dengan sikap dan perilaku kita sebagai orangtua atau anak-anak untuk saling memberi perhatian, dapat menikmati kebersamaan serta memiliki rasa persahabatan.
Menerapkan sikap kedekatan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Pencerminan sikap keakraban bisa diawali dalam pergaulan atau komunikasi diantara anggota keluarga dirumah. Misalnya, bermain dan bergaul bersama antara orangtua dan anak-anak atau diantara anak-anak dengan teman sebayanya.
Sesekali atau seringkali, kita bisa juga membawa anak-anak kita untuk makan bersama dengan tetangga. Dua atau empat temannya kita undang makan di rumah atau kita bersama anak makan bersama di rumah tetangga. Saat makan kita tawari anak-anak lainnya mencicipi makanan lainnya.
Dalam kelompok bermain, anak-anak dibiarkan bergaul bersama teman-teman sebayanya, agar terlihat kedekatannya. Dengan sikap kita, seperti mengajak bermain, membawa anak makan bersama, atau membiarkan anak-anak bergaul bersama teman-teman sebayanya, maka sesungguhnya perilaku kita telah mencerminkan sikap kedekatan terhadap anak-anak kita dalam pergaulan sehari-hari.

22. Sikap Adil
Apakah yang dimaksud dengan sikap adil? Sikap adil adalah memperlakukan orang lain dengan sikap tidak memihak secara proporsional. Bagaimana ciri-ciri orang adil? Orang adil dapat dicirikan dengan: kemampuan seseorang untuk memperlakukan orang lain secara wajar dan proporsional seperti kita ingin diperlakukan oleh orang lain, berpihak pada kebenaran dan tidak pilih kasih terhadap sesama.
Bagaimana menumbuhkan sikap adil pada aspek cinta-kasih dalam keluarga? Adil merupakan sikap terpuji yang mesti dimiliki oleh setiap orang. Dengan adanya keadilan diantara kita akan menimbulkan keharmonisan hidup dalam keluarga maupun di masyarakat. Kesetaraan dan keadilan jender saat ini perlu ditumbuhkan. Sikap orangtua harus adil dalam segala hal terhadap anak-anaknya tanpa membeda-bedakan. Apakah anak laki-laki atau perempuan agar mendapatkan kesempatan yang seimbang.
Penumbuhan sikap adil dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua untuk memperlakukan anak-anaknya secara adil, memberi kesempatan yang sama diantara anak-anak dan sclalu berpihak pada kebenaran.
Menerapkan sikap adil dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Sikap manusia sesungguhnya selalu ingin mendapatkan hak yang seimbang dan mendambakan kesempatan yang sama tanpa pilih kasih. Orangtua sebaiknya sering bicara tentang keadilan terhadap anak-anaknya sambil mempraktekannya dalam kehidupan sehari-hari, dalam hal:
 membagi tugas atau pekerjaan di rumah diantara anak-anak secara merata;
 memberi kesempatan yang sama diantara anak-anak untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi;
 Tidak memperlakukan yang berbeda terhadap anak-anak, kalau ada yang berbuat salah diberi teguran dan sebaliknya bila berbuat baik diberi pujian.
Disinilah kita dapat menumbuhkan sikap adil terhadap anak-anak kita secara langsung, agar anak-anak dapat berlaku adil terhadap sesama, baik dirumah maupun di masyarakat.

23. Sikap Pemaaf
Apakah yang dimaksud dengan sikap pemaaf? Sikap pemaaf adalah dapat menerima kesalahan orang lain tanpa perasaan dendam. Bagaimana ciri-ciri orang pemaaf? Orang pemaaf dicirikan dalam perilakunya dapat: memaafkan kesalahan orang lain diminta atau tidak serta tidak menyimpan dendam atas kesalahan.
Bagaimana menumbuhkan sifat pemaaf pada anak dalam keluarga? Pemaaf merupakan sifat terpuji yang menunjukan akhlakulkarimah bagi seseorang. Setiap anggota keluarga hendaklah menjadi manusia pemaaf atas kesalahan atau kekhilafan orang lain. Apalagi kita selaku orangtua harus mampu menunjukan sifat pemaaf bagi anak-anaknya dan anggota keluarga lainnya agar dapat ditiru. Setiap orang membutuhkan pemaafan orang lain ketika merasa bersalah, diminta atau tidak.
Menumbuhkan sifat pemaaf dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kebaikan orangtua dan anak-anaknya dalam memaafkan terhadap siapa saja dan dimana pun dalam segala hal diminta atau tidak tanpa menyimpan rasa dendam.
Menerapkan sikap pemaaf dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Mungkin kita selaku orangtua pernah melakukan kesalahan dalam melakukan sesuatu yang berkaitan dengan anak kita. Ketika itulah kita dapat meminta maaf kepada anak-anak kita tanpa harus merasa malu, jatuh gengsi atau sok tahu. Dengan cara ini kita telah mencontohkan diri, sekaligus melibatkan anak-anak dalam proses pemaafan sebagai penguatan tumbuhnya sifat pemaaf.
Begitu pun, bila anak-anak kita pernah melakukan kesalahan atau kekhilafan disengaja maupun tidak, maka sikap kita sebaiknya mamaafkan, misalnya anak kita memecahkan piring dan di wajah anak itu timbul rasa ketakutan. Alangkah bijaksananya jika kita memaafkan anak kita sebelum ia minta maaf. Bisa saja anak-anak kita bermain bersama teman sebayanya, tiba-tiba berkelahi. Sikap kita harus mendamaikan anak-anak itu dengan cara membicarakannya, kemudian saling memaafkan. Dengan tindakan ini, sesungguhnya kita telah melakukan evaluasi dan sekaligus telah menunjukan menjadi manusia pemaaf dihadapan anak-anak kita.

24. Kesetiaan
Apakah yang dimaksud dengan kesetiaan? Kesetiaan adalah cerminan pribadi dalam memenuhi harapan dan keinginan orang lain diminta atau tidak diminta. Bagaimana ciri-ciri kesetiaan? Kesetian dapat dicirikan dengan memenuhi harapan dan keinginan orang lain diminta atau tidak diminta untuk kepentingan keluarga, teman, kelompok, atau masyarakat yang telah disepakati bersama.
Bagaimana menumbuhkan sikap kesetiaan pada anak dalam keluarga? Setiap anggota keluarga semestinya mempunyai sikap setia terhadap keluarga, teman, kelompok atau masyarakat sesuai dengan kesepakatan bersama tanpa adanya saling mengkhianati. Melalui kesetiaan dapat melahirkan kekuatan untuk menghadapi masalah yang selalu menghadang dihadapan kita. Orangtua bersama anak-anak dan anggota masyarakat lainnya sebaiknya membangun rasa kesetiakwanan.
Menumbuhkan sikap setia dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan bimbingan orangtua terhadap anak-anak untuk membangun kesetiaan dalam keluarga, bersama teman-teman, kelompok atau dalam lingkungan masyarakat.
Menerapkan sikap kesetiaan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Suatu saat kita mempunyai janji bersama anak-anak dan saudara untuk rekreasi, tiba-tiba kita dapat undangan lagi ke tempat lain yang lebih menarik dari pada tempat yang kita rencanakan semula, kemudian rencana itu gagal. Kita dapat menjelaskan kepada anak-anak peristiwa tersebut, namun kita tetap setia untuk memenuhi rencana awal yaitu pergi rekreasi bersama anak-anak. Ituah kesetiaan yang ditunjukan oleh orangtua kepada anaknya.
Bisa saja anak-anak kita meminta saran kepada kita selaku orangtua. la mengatakan “mah, bagaimana menurut mamah, hari ini saya janjian sama teman mau ngantar membeli buku, tapi rasanya malas”. Kita sebagai orangtua harus tetap mendorong anak-anak kita agar berlaku setia pada temannya, apalagi mereka sudah janjian, sambil mengatakan: “kalau sudah janjian, kita tidak boleh inkar janji, apalagi mengkhianatinya, itu tidak baik.
Kita sudah mengawali berlaku setia pada anak-anak dan menyarankan anak-anak agar tetap berlaku setia pada teman-temannya, maka akan menjadi panutan yang baik bagi anak-anak kita untuk bersikap setia yang dilandasi cinta kasih antara sesama.
25. Pengorbanan
Apakah yang dimaksud dengan pengorbanan? Pengorabanan adalah kerelaan memberikan sesuatu untuk membantu orang lain diminta atau tidak diminta. Bagaimana ciri-ciri sikap pengorbanan? Pengorbanan dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang untuk ikhlas memberikan haknya kepada orang lain diminta atau tidak diminta serta bersedia mengambil resiko.
Bagaimana menumbuhkan sikap pengorbanan pada anak dalam keluarga? Terdapat peribahasa yang sudah populer di masyarakat yang menyatakan: berjuang tanpa pengorbanan tidak akan berhasil. Pengorbanan merupakan sikap kesatria seseorang untuk kepentingan dan kebutuhan orang lain. Sikap pengorbanan ini perlu diwariskan kepada anak-anak kita. Bagaimana orangtua bekerja mencari nafkah untuk keperluan hidup dan kehidupan anak-anaknya tanpa pamrih dan tidak mengenal lelah, karena dilandasi oleh cinta kasih yang tulus sebagai suatu pengorbanan.
Menumbuhkan sikap pengorbanan dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak selalu berlaku ikhlas untuk memberikan sebagian haknya dan bersedia mengambil resiko untuk membantu orang lain.
Menerapkan sikap pengorbanan dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Dalam setiap lingkup kehidupan, apakah itu dalam keluarga maupun di masyarakat terkadang dituntut suatu pengorbanan dari sesorang terhadap orang lain. Dalam lingkup keluarga barangkali kita dapat berbicara dengan anak-anak.
Bisa saja suatu ketika anak-anak kitak yang balita sedang bermain dengan teman sebayanya, tiba-tiba anak yang satunya lagi menangis menginginkan mainan boneka yang di pegang oleh anak kita, orangtua dapat mengambil sikap dalam situasi ini, misalnya: boneka ini punya siapa, bisa enggak pinjamkan bonekanya kepada temanmu yang nangis, kasian deh lo.
Pengorbanan juga dapat dicerminkan dengan adanya saling membantu antara orangtua dan anak-anak atau anggota keluarga lainnya dalam mengerjakan sesuatu di rumah. Bersama tetangga kita bisa saling memberi yang menjadi kebutuhan masing-masing. Dengan cara ini, orangtua dapat menilai, apakah setiap anggota keluarga dapat melakukan pekerjaan dengan ikhlas atau keterpaksaan. Kalau anak-anak kita bekerja dengan raut muka yang ceria dan senang maka berikan pujian kepada anak-anak, paling tidak ucapan terima kasih.
Dengan penteladanan dan melibatkan anak-anak dalam pekerjaan sehari-hari di rumah, secara tidak langsung kita telah menanamkan sikap pengorbanan kita kepada anak-anak.

26. Tanggungjawab
Apakah yang dimaksud dengan tanggungjawab? Tanggungjawab adalah mengetahui serta melakukan tugas yang diamanatkan kepada seseorang. Bagaimana ciri-ciri orang yang bertanggungjawab? Orang yang bertanggungjawab dapat dicirikan dengan: mengetahui apa yang menjadi tugasnya serta mengerti bagaimana cara melaksanakannya.
Bagaimana menerapkan sikap bertanggungjawab pada anak dalam keluarga? Bertanggungjawab merupakan sikap yang baik bagi setiap anggota keluarga. Kita selaku orangtua, maupun anak-anak dan anggota keluarga lainnya harus mempunyai sikap bertanggungjawab terhadap segala sesuatu yang akan atau sudah dilakukan dengan segala resikonya.
Menerapkan sikap bertanggungjawab dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan upaya orangtua atau anak-anak agar mengetahui apa yang menjadi tugas masing-masing serta mengerti bagaimana cara melakukannya.
Menerapkan sikap tanggung jawab dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Untuk menanamkan sikap bertanggungjawab di rumah, orangtua sebaiknya memberikan tugas atau pekerjaan kepada anak-anak kita sesuai dengan kemampuan. Misalnya membereskan tempat tidur, menyapu halaman rumah dan sebagainya. Beri kesempatan kepada anak-anak untuk mengerjakannya, apakah selesai dikerjakan atau tidak dan bagaimana cara melakukannya. Bila tidak dikerjakan atau tidak selesai, maka orangtua dapat menanyakan kenapa hari ini tidak membereskan tempat tidur, itukan tanggungjawabmu, ayo kerjakan dulu biar rapi.
Bisa saja anak-anak kita berada di kelompok bermain, di sana banyak mainan dan lainnya. Biarkan mereka bermain sesukanya bersama teman-teman sebayanya. Setelah selesai, kita perhatikan, apakah mereka menyimpan kembali mainan ke tempatnya atau tidak. Kita dapat mengamati bagaimana anak-anak bermain sampai selesai, apakah mainannya disimpar. kemabli ke tempanya atau tidak. Bila tidak kita dapat mengingatkan kembali kepada anak-anak, bahwa mainan itu harus disimpan kembali ke tempatnya.
Dengan cara begini diharapkan anak-anak kita dapat melakukan pekerjaan yang menjadi tugasnya serta mengerti bagaimana melakukannya sampai selesai. Inilah cerminan dari suatu sikap bertanggungjawab yang harus tertanam sejak usia dini.

27. Rasa Aman
Apakah yang dimaksud dengan rasa aman? Rasa aman adalah suatu perasaan yang terbebas dari ketakutan dan kekhawatiran. Bagaimana ciri-ciri orang merasa aman? Orang marasa aman dapat dicirikan bila dalam hidup adanya rasa tenteram, damai, nyaman dan sukacita.
Bagaimana penerapan rasa aman pada anak dalam keluarga? Perasaan aman dalam hidup merupakan kebutuhan bagi setiap anggota keluarga. Kita selaku orangtua, maupun anak-anak dan anggota keluarga lainnya butuh akan rasa aman. Dengan rasa aman kita dapat melakukan apa pun dalam hidup untuk meraih keberhasilan.
Dalam kehidupan keluarga, penumbuhan rasa aman berkenaan dengan kewajiban orangtua memberikan perlindungan terhadap anak-anaknya dengan menciptakan rasa aman di mana saja dalam segala hal, agar anak-anak dapat tumbuh dan berkembang secara baik.
Menerapkan sikap rasa aman dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Kemungkinan anak kita melakukan kesalahan dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas yang diberikan oleh kita, maka sebaiknya kita:
 Tidak boleh membentak anak-anak, misalnya dengan kata-kata: kamu bego, yah.
 Tidak boleh memaki, misalnya dengan kata-kata: dasar kamu anak goblok tidak bisa melakukan pekerjaan.
 Tidak boleh mengancam, misalnya dengan kata-kata: awas kamu, kalau tidak bisa melakukan pekerjaan ini, tidak dikasih uang jajan.
 Tidak boleh menakut-nakuti, misalnya dengan kata-kata: kalau kamu salah melakukan pekerjaan ini, kamu akan dihukum, mengerti!?

Dengan membentak, memaki, mengancam atau menakut-nakuti, maka anak-anak kita sudah merasa tidak aman yang mengakibatkan hilangnya rasa tentram, damai, nyaman dan sukacita dalam melaksanakan pekerjaan atau tugas, hingga berakibat pada menurunnya prestasi anak kita.
Dalam situasi seperti ini kita sebaiknya memberikan bantuan kepada anak kita dengan cara memberikan contoh bagaimana melakukan pekerjaan atau tugas yang dilakukan anak. Dengan melibatkan diri kita ke dalam pekerjaan atau tugas anak, maka kita sesungguhnya sudah memberikan penguatan melalui kerjasama dan sekaligus mengevaluasi terhadap kekurangan atau kesalahan dan ketidakmampuan anak dalam melakukan pekerjaan atau tugas yang harus diselesaikannya.

28. Sikap Tanggap
Apakah yang dimaksud dengan sikap tanggap? Sikap tanggap adalah mengetahui dan menyadari sesuatu yang akan dihadapinya. Bagaimana ciri-ciri orang bersikap tanggap? Orang bersikap tanggap dapat dicirikan dengan mewaspadai terhadap situasi yang akan dihadapinya dengan cara menunjukan perasaan dan memberikan dukungan moril terhadap seseorang.
Bagaimana pencerminan sikap tanggap pada anak dalam keluarga? Tanggap merupakan sikap yang baik bagi seseorang. Setiap anggota keluarga hendaklah menjadi manusia tanggap terhadap permasalahan yang dihadapi orang lain. Sebagai orangtua, kita harus tanggap dan mampu menunjukan sikap dan perasaan terhadap anak-anak Kita. Apakah dalam keadaan membahayakan, atau dalam keadaan biasa, menggemberikan bahkan mencurigakan.
Setiap orang membutuhkan perhatian dari orang lain dengan cara menanggapi perasaan dan permasalahan yang sedang dihadapi, kemudian membantu menyelesaikannya. Dalam kehidupan keluarga, pencerminan sikap tanggap berhubungan dengan kewajiban orangtua memberikan perlindungan terhadap anak-anaknya dengan menunjukan sikap tanggap terhadap permasalahan, kemudian membantunya bila diperlukan atau tidak diperlukan.
Menerapkan sikap tanggap dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Barangkali anak-anak kita sedang menghadapi masalah pribadi atau dengan orang lain, dengan menunjukan raut muka yang kusam, cemberut, kecewa, sedih atau bahkan menangis dihadapan orangtua. Selaku orangtua kita harus tanggap atas keadaan itu, sekaligus ikut menyelesaikannya, dengan cara menanyakan terhadap masalah yang dihadapinya dan menunjukan parasaan.

Dengan melibatkan diri kita terhadap permasalahan yang sedang dihadapi anak, maka sesungguhnya kita telah menunjukan sikap tanggap dan sekaligus memberikan perhatian bagaimana menunjukan sikap tanggap itu sebagai upaya perlindungan. Bila masalahnya sudah diketahui, maka kita dapat bersama-sama memecahkannya dengan berbagai saran yang mungkin dapat dilakukan, sehingga anak-anak kita menjadi manusia berlapang dada dan tanggap terhadap lingkungannya.

29. BersikapTabah
Apakah yang dimaksud dengan sikap tabah? Sikap tabah adalah mampu bertahan ketika menghadapi situasi yang tidak diharapkan. Bagaimana ciri-ciri orang bersikap tabah? Orang tabah dapat dicirikan dengan kemampuan mengendalikan diri atau sabar dalam menghadapi situasi apa pun sekaligus mampu membangkitkan semangat.
Bagaimana menumbuhkan sifat tabah pada anak dalam keluarga? Tabah merupakan sifat terpuji bagi seseorang. Setiap anggota keluarga hendaklah mewarisi sifat tabah dalam hidupnya. Sebagai orangtua, kita harus tabah dengan cara menunjukan pengendalian diri atau sabar, sekaligus mampu membangkitkan semangat dalam menghadapi situasi dan permasalahan anak-anak dan keluarganya.
Setiap orang diharapkan memupuk sikap tabah agar mampu mengendalikan diri dan membangkitkan semangat ketika menghadapi masalah atau mendapat keberuntungan. Menumbuhkan sikap tabah dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan kewajiban orangtua memberikan perlindungan terhadap anak-anaknya dengan menunjukan sikap tabah terhadap situasi dan permasalahan.
Menerapkan sikap tabah dari orangtua terhadap anak-anak sebaiknya dilakukan dengan enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Barangkali anak-anak kita sedang menghadapi kesulitan, apakah di rumah, di sekolah atau di lingkungan masyarakat, maka kita selaku orangtua sebaiknya:
 Memberikan penyadaran terhadap anak-anak kita agar dapat mengendalikan diri, dengan menyatakan: “sabarlah nak, barangkali ini merupakan cobaan, biasanya dibalik cobaan itu ada hikmahnya
 Memberikan semangat untuk terus melakukan sesuatu hal yang terbaik, dengan menyatakan: ayo nak maju terus pantang mundur dalam menghadapi cita-cita dan pernytaan lain yang memberikan semangat.
Dalam situasi ini, orangtua dapat menunjukan sikap tabah. Memberikan penguatan dan larut untuk membantunya. Dengan melibatkan diri kita terhadap situasi dan masalah anak, maka sebenarnya kita telah menunjukan sifat tabah dan sekaligus memberikan contoh bagaimana menunjukan sifat tabah itu sebagai upaya perlindungan. Bila masalahnya dapat diatasi, maka kita dapat mendorong, memberikan semangat, sehingga anak-anak kita tumbuh menjadi manusia tabah yang mampu mengendalikan diri dan selalu bersemangat dalam hidupnya.

30. Berperilaku Sehat
Apakah yang dimaksud dengan berperilaku sehat? Berperilaku sehat adalah keadaan sehat secara fisik dan psikhis yang selalu diusahakannya. Bagaimana ciri-ciri orang yang berperilaku sehat? Orang yang berperilaku sehat dicirikan dengan kemampuan seseorang menjaga kebersihan dan kesehatan dengan pola hidup yang teratur dan makanan yang halal dan bergizi.
Bagaimana penerapan berperilaku sehat dalam keluarga? Sehat merupakan dambaan bagi setiap orang. Setiap orang harus mampu menjaga kesehatan fisik maupun psikhisnya. Apalagi selaku orangtua, kita mesti dapat membimbing anak-anak kita dan anggota keluarga lainnya dalam memelihara kesehatan, agar dapat hidup sehat dan bahagia.
Mendambakan sehat dalam kehidupan dapat dilakukan dengan cara pola hidup yang teratur dan makan makanan halal dan bergizi sehingga terbebas dari berbagai penyakit. Kemampuan orangtua dalam memberikan bimbingan untuk menjaga kesehatan anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Anak-anak kita mesti dibimbing bagaimana menjaga agar hidup bersih dan sehat dapat dimulai dari hal-hal yang kecil, misalnya:
 setelah kencing atau buang air besar dibiasakan membasuhnya dengan menggunakan pembersih;
 bagi anak perempuan dicontohkan membasuhnya, apakah dari arah belakang atau dari arah depan;

Sedangkan bagi anak remaja mesti dibimbing untuk menjaga sehat reproduksinya dalam hal:
 selesai menstruasi bagi anak perempuan atau anak laki-laki mengalami mimpi basah, bagaimana mandi besar disertai do’anya sesuai ajaran agamanya;
 pemahaman menjaga sehat reproduksi harus lebih bijaksana. Misalnya, untuk mengatakan kepada remaja kita jangan melakukan onani bagi anak laki-laki dan masturbasi bagi anak perempuan;
 Bisa juga memberikan penguatan dengan memberikan gambaran akibat hubungan seks bebas, hingga terkena penyakit kelamin.
Dengan cara ini diharapkan anak-anak kita dapat berperilaku sehat dengan pola hidup yang baik dan makan makanan yang halal dan baik sesuai dengan ajaran agama kita sehingga menjadi generasi yang tagguh.

31. Bersikap Teguh
Apakah yang dimaksud dengan sikap teguh? Sikap teguh adalah seseorang mampu menjaga diri dari hal-hal yang dihadapinya. Bagaimana ciri-ciri keteguhan? Orang teguh dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang dalam mempertahankan pendapat atau kepribadian selama yang dianggapnya benar.
Bagaimana penerapan sikap teguh pada anak dalam keluarga? Orangtua harus memupuk sikap teguh kepada anak-anaknya dalam menghadapi situasi dan kondisi apa pun.
Menanamkan keteguhan dalam kehidupan keluarga, pada anak dalam keluarga berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak kita dalam mempertahankan pendapat atau kepribadian selama yang dianggapnya benar tanpa menimbulkan perselisihan atau persengketaan yang mengakibatkan putus hubungan sosial.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap teguh pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Bagi anak remaja yang mulai berteman dengan lawan jenisnya, sebaiknya orangtua memberikan bimbingan agar anaknya memiliki sikap teguh dalam berpendapat dan berpendirian dengan menghargai pendapat orang lain dan perbedaan tanpa menimbulkan perselisihan.
Sikap teguh termasuk mulia apalagi dalam hal mempertahankan akidah atau pemaksaan dari pihak lain untuk mencelakakan anak-anak kita. Orangtua sebaiknya menanamkan sikap teguh ini di dalam keluarga melalui latihan-latihan yang berdebat atau berdiskusi terhadap suatu kasus yang mungkin dapat membahayakan anak-anak kita tanpa disadarinya.

32. Percaya Diri
Apakah yang dimaksud dengan percaya diri? Percaya diri adalah kebebasan berbuat secara mandiri dengan mempertimbangkan dan memutuskan sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Bagaimana ciri-ciri orang percaya diri? Percaya diri dapat dicirikan dengan orang yang tidak rendah diri sekaligus berani mengungkapkan kemampuan dirinya.
Bagaimana menanamkan sifat percaya diri pada anak dalam keluarga? Ada slogan yang selalu kita dengar di media Televisi yang menyatakan “PeDe-aja lagi” adalah sebuah ungkapan yang menunujukan berani tampil. Percaya diri seorang anak sebagai sifat yang melekat pada dirinya tidak bisa datang tiba-tiba, melainkan harus ditanamkan oleh orangtua terhadap anak-anaknya sejak usia dini. Dimulai sejak dalam keluarga, kemudian dilanjukan di lingkungan masyarakat yang lebih luas.
Menanamkan sifat percaya diri dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan kemampuan orangtua untuk menanamkan sifat kemandirian anak-anak dalam berbuat, bertindak, mengungkapkan dengan mempertimbangkan dan memutuskan tanpa bergantung kepada orang lain.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap percaya diri pada anak-anaknya dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Dalam menanamkan sikap percaya diri, misalnya orangtua bisa mengajak anak-anaknya bernyanyi, mengaji atau ngobrol bersama. Bila ada musik, biarkan anak-anak kita bernyanyi atau menari mengikuti irama musik. Dengan cara ini akan menumbuhkan percaya diri pada anak-anak.
Bisa juga orangtua mengajak anak-anaknya bergabung dengan kelompok bermain untuk belajar berani tampil beda dengan cara membiarkan atau mengarahkan anak-anak agar mengikuti kegiatan atau melakukan apa saja sesukanya yang dianggap baik.
Orangtua sebaiknya juga memotivasi anak-anaknya agar berani tampil percaya diri dalam setiap kesempatan. Berikan peran yang jelas pada anak-anak, ketika ada acara-acara seremonial atau acara lainnya dalam kegiatan di rumah atau di masyarakat, misalnya pada kegiatan kelompok pengajian Remaja Masjid, Karang Taruna dan lainnya.
Dengan ajakan atau saran untuk mengikuti segala kegiatan di masyarakat, diharapkan anak-anak kita dapat menyatakan dirinya secara leluasa, bersikap mandiri dalam mengambil putusan dengan pertimbangannya sendiri tanpa bergantung pada orang lain.

33. Bersikap Luwes
Apakah yang dimaksud dengan sikap luwes? Sikap luwes adalah mudah menyesuaikan diri dengan situasi dan kondisi di mana pun berada. Bagaimana ciri-ciri orang bersikap luwes? Orang luwes dapat dicirikan dengan: mudah menerima pendapat orang lain serta dapat bergaul dengan siapa saja tanpa ada rasa curiga.
Bagaimana mencerminkan sikap luwes pada anak dalam keluarga? luwes merupakan sikap yang baik untuk menjadi kepribadian seseorang. Orang luwes akan mempunyai banyak teman dan pengalaman, karena mudah bergaul dan berteman di mana saja, kapan saja dengan siapa saja. Orangtua sebaiknya menumbuhkan sikap luwes ini terhadap anak-anaknya di mulai dari rumah, selanjutnya dalam hidup di masyarakat yang lebih luas.
Pencerminan sikap luwes dalam kehidupan keluarga berkenaan dengan sikap dan perilaku orangtua dan anak-anak agar dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi dan kondisi, dapat menerima pendapat orang lain serta siap berubah, tapi tidak seperti bunglon.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap luwes pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Pada kelompok bermain, biarkan anak-anak bermain dan bergaul bersama teman-teman sebayanya. Apabila ada diantara anak-anak kita yang minder, malu-malu, sehingga tidak berani bergaul, orangtua dapat mengamati dan membimbingnya supaya mau bergabung.
Orangtua, bisa juga menyarankan anak-anak remajanya agar belajar berkelompok untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah bersama temanya. Dua atau empat temannya kita undang ke rumah. Saat belajar itulah kita bisa menjadi fasilitator, misalnya bertanya tentang tawuran pelajar, penyalahgunaan Narkoba, HIV/AIDS dan sebagainya yang berkaitan dengan masalah remaja.
Selama diskusi itu berlangsung, orangtua dapat memperhatikan bagaimana mereka berdebat, apakah saling menghargai pendapat orang lain atau malah saling bertahan dengan pendapatnya masing-masing walaupun terdapat kelemahan. Kita dapat menyarankan anak-anak, agar bersikap luwes dalam berdiskusi dengan cara saling menghargai pendapat orang lain dulu sebelum membantahnya, dengarkan dulu baik-baik, kemudian menjawabnya.
34. Bersikap Bangga
Apakah yang dimaksud dengan bersikap bangga? bersikap bangga adalah perasaan senang yang dimiliki, ketika selesai melaksanakan tugas atau pekerjaan yang menantang kemudian berhasil meraih sesuatu yang diinginkan. Bagaimana ciri-ciri orang merasa bangga? Orang bangga dapat dicirikan dengan kesenangan seseorang setelah berhasil mencapai sesuatu yang di inginkan tanpa diiringi dengan sikap sombong.
Bagaimana menumbuhkan sikap bangga pada anak dalam keluarga? Sikap manusia sesungguhnya selalu ingin mendapatkan penghargaan dari orang lain atas prestasi yang dicapainya sekecil apa pun. Sikap bangga sebaiknya ditanamkan sejak dini dari orangtua terhadap anak-anaknya, agar bisa menghargai dirinya sendiri. Bangga dalam arti sewajarnya, bukan bangga dalam arti berlebihan yang menjurus pada kesombongan atau lupa diri atas segala yang diraihnya.
Menumbuhkan sikap bangga dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak untuk menghargai atas segala tugas atau pekerjaan yang telah selesai dilaksanakan secara bijaksana sesuai dengan prestasi yang dicapainya, sehingga menimbulkan kesenangan diri.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap bangga pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menumbuhkan sikap bangga dari orangtua terhadap anak-anak agar menghargai dirinya sendiri salah satunya melalui penteladanan. Orangtua harus membiasakan agar senantiasa mengahargai keberhasilannya sendiri dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan termasuk keberhasilan anak-anaknya dengan memberitahukannya atau memberikan pujian kepada anak-anaknya yang berhasil meraih sesuatu.
Ketika anak kita pulang sekolah mengabarkan hasil ulangannya yang sangat bagus, dengan rasa bangga anak kita menunjukannya. Sikap orangtua semestinya ikut merasakan kebanggaan itu dengan cara memujinya sambil menyarankan supaya belajar lebih rajin lagi, bersyukur kepada Allah SWT tanpa lupa daratan.
Di kelompok bermain, orangtua dapat juga menumbuhkan rasa kebanggaan buat anak-anaknya. Saat mereka bermain bersama teman sebayanya, orangtua bisa sebagai fasilitator, mengajak bermain, menyontohkan cara menggunakan alat-alat bermain. Misalnya menyusun menara balok. Setelah selesai, siapa yang paling tinggi menyusun baloknya, kita berikan pujian atau hadiah untuk menimbulkan kebanggaan pada dirinya.
Melalui permainan, menunjukan sikap bangga kita terhadap prestasi anak-anak, sesungguhnya kita telah menumbuhkan sikap bangga bagi anak-anak secara alami, sehingga anak-anak akan mampu menghargai dirinya sendiri dan juga menghargai orang lain.

35. Kreatif
Apakah yang dimaksud dengan perilaku kreatif? Perilaku kreatif adalah mendapatkan banyak cara atau ide untuk melakukan sesuatu hingga berhasil. Bagaimana ciri-ciri orang kreatif? Orang kreatif dapat dicirikan dengan: selalu banyak idea atau gagasan dalam melakukan sesuatu, tidak pernah berhenti untuk berbuat sesuatu yang lebih baik untuk mendapatkan keberhasilan.
Bagaimana menanamkan sifat kreatifitas pada anak dalam keluarga? “Ada kreativitas ada karya” merupakan suatu ungkapan yang perlu ditanamkan kepada anak-anak, agar menjadi orang kreatif. Orang kreatif selalu banyak idea tau gagasan untuk melakukan sesuatu yang menghasilkan karya-karya baru. Setiap anggota keluarga, orangtua maupun anak-anak semestinya mempunyai sikap kreativitas untuk sesuatu yang baru.
Kebanyakan anak-anak kita dalam melakukan kegiatan apa saja selalu menunggu petunjuk atau perintah orang lain. Budaya ini sesungguhnya membuat anak-anak kita menjadi malas dan kurang kreatif. Budaya disuruh atau menunggu perintah seringali tercipta di lingkungan keluarga, karena orangtua seringkali menyuruh kepada anak-anaknya sehingga anak menjadi bermental pesuruh.
Menanamkan sifat kreativitas dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan kemampuan orangtua membimbing anak-anaknya supaya melakukan kegiatan untuk menghasilkan karya-karya baru yang bermanfaat dan bergurna bagi dirinya maupun orang lain tanpa disuruh atau diperintah.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap kreativitas pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Penerapan sifat kreativitas terhadap anak-anak dimulai oleh orangtua dalam keluarga dengan penteladanan dengan melibatkan anak-anak. Misalnya membuat kerajinan tangan dari barang-barang bekas, membuat vas bunga dari kaleng bekas atau tanah liat dan sebagainya.
Melalui pekerjaan sehari-hari di rumah, orangtua juga harus kreatif menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi anak-anak agar tidak jenuh. Misalnya masak telor agar tidak bosan dimakan atau goreng dadar telor, telor mata sapi, goreng telor campur sayuran wortel dan sebagainya. Bisa juga orangtua mengajak anak-anaknya membuat makanan tradisional dari bahan singkong, ubi menjadi makanan yang enak dan bervariasi. Ini namanya bekerja kreatif untuk mendapatkan makanan bervariasi supaya tidak membosankan.
Di kelompok bermain, anak-anak kita bisa juga dibimbing menjadi anak kreatif. Orangtua dapat mengumpulkan dua atau empat anak sebayanya agar main bersama. Berikan mereka kertas dan pensil berwarna untuk merggambar apa saja yang mereka sukai atau tugas lain yang mereka sukai.

36. Kerjasama
Apakah yang dimaksud dengan sikap kerjasama? Sikap kerjasama adalah melakukan suatu pekerjaan secara bersama-sama secara ikhlas. Bagaimana ciri-ciri orang bersikap kerjasama? Orang bersikap kerjasama dapat dicirikan dengan kemampuan seseorang untuk saling menolong, suka kerja bersama, setia kawan dan ada pembagian tugas dengan orang Iain secara proporsional.
Bagaimana menumbuhkan sikap kerjasama pada anak dalam keluarga? Pepatah menyatakan: “ringan sama dijinjing-berat sama dipikul” adalah cerminan dari suasana kerjasama yang harmonis. Kerjasama merupakan bagian dari kebersamaan yang selalu didambakan oleh semua orang di mana saja dan kapan saja. Dengan adanya kerjasama diantara kita, apakah dalam keluarga maupun di masyarakat segalanya akan selesai. Apabila hidup dalam keluarga terdapat kerjasama diantara anggota keluarga, maka segala beban hidup akan serasa lebih ringan.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap kerjasama pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menumbuhkan sikap kerjasama dalam kehidupan keluarga berhubungan dengan kesediaan orangtua dan anak-anak untuk saling menolong, kerja bersama, setia kawan dan adanya pembagian tugas dengan jelas. Menerapkan sikap kerjasama oleh orangtua terhadap anak-anak di rumah bisa melalui penteladanan dengan melibatkan ank-anak. Misalnya memindahkan perabotan rumah tangga, menata ruangan keluarga dan sebagainnya dilakukan secara bersama-sama.
Di lingkungan masyarakat biasanya terdapat kegiatan yang memerlukan kerjasama, misalnya membersihkan jalan, membuat jembatan, perkumpulan remaja Karang Taruna dan sebagainya dapat dijadikan ajang kerjasama. Orangtua dapat mengajak anak-anaknya untuk mengikuti kegiatan-kegiatan tersebut sebagai cerminan kerjasama diantara sesama.
Kerjasama juga dapat dicerminkan dengan adanya penyelesaian tugas bersama dalam suatu tim kerja. Kita dapat memperhatikan anak-anak kita, ketika berada dalam tim itu, apakah kerja bersama-sama atau kerja sendiri-sendiri. Dengan cara ini kita telah membimbing, mengajak dan mengevaluasi sikap kerjasama anak-anak kita secara langsung dalam praktek.

37. Perilaku Hemat
Apakah yang dimaksud dengan berperilaku hemat? Perilaku hemat adalah Kemampuan seseorang berlaku hati-hati dalam membelanjakan uang atau menggunakan sesuatu secara efisien dan efektif. Bagaimana ciri-ciri orang berperilaku hemat? Oang hemat dapat dicirikan bila: membelanjakan uangnya tidak boros, tidak memaksakan diri sesuai dengan keinginan atau kebutuhan, melakukan sesuatu berdasar kemampuan.
Bagaimana menumbuhkan perilaku hemat pada anak dalam keluarga? Pepatah mengatakan: “hemat pangkal kaya, boros pangkal melarat”. Perilaku hemat berlaku dalam segala hal, termasuk dalam soal ekonomi. Setiap anggota keluarga semestinya memiliki perilaku hemat. Bila berbelanja mesti sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan, bukan menurut keinginan. Menumbuhkan perilaku hemat harus diawali oleh orangtua dalam keluarga, supaya ditiru anak-anak dalam hidup sehari-hari.
Menumbuhkan perilaku hemat dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan kesiapan orangtua dan anak-anak tidak berlaku boros, tidak memaksakan diri dalam memenuhi keinginan melainkan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan dalam membeli atau menggunakan sesuatu.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan perilaku hemat pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan perilaku hemat dari orangtua terhadap anak-anak supaya menjadi kebiasaan salah satunya melalui penteladanan, seperti menyisihkan uang belanja sehari-hari untuk ditabungkan di rumah, setelah terkumpul selama satu minggu atau satu bulan uang tersebut bisa ditabungkan di Bank terdekat.
Demikian juga, ketika anak-anak mempunyai keinginan membeli sesuatu, padahal orangtua tidak mempunyai kemampuan membelinya segera, karena harganya terlalu mahal, sikap orangtua dapat mengajak anak-anak untuk menabung dari sisa uang jajan sekolah setelah mencukupi baru dibelanjakan.
Mungkin saja anak-anak terkadang membeli sesuatu tanpa memberitahukan orangrua terlebih dahulu. Padahal menurut penilaian kita sesuatu yang dibeli itu kurang bermanfaat bagi dirinya atau orang lain, sehingga menjadi pemborosan atau mubadzir. Orangtua dapat saja mengingatkan, bahwa kita harus selalu hemat dan membeli sesuatu yang diperlukan saja.
Orangtua bersama anak-anak dapat juga merencanakan berbelanja ke pasar atau mal pada hari-hari tertentu. Pada kesempatan ini orangtua bisa menunjukan pada anak-anak, bagaimana berperilaku hemat dalam berbelanja.

38. Bersikap Teliti
Apakah yang dimaksud dengan sikap teliti? Sikap teliti adalah kemampuan seseorang berlaku cermat, seksama dan hati-hati dalam segala hal. Bagaimana ciri-ciri orang bersikap teliti? Orang bersikap teliti dapat dicirikan dengan memperhitungkan secara teliti untuk menghindari dan memperkecil kesalahan.
Bagaimana menumbuhkan sikap teliti pada anak dalam keluarga? Iklan di Televisi selalu mengingatkan: “teliti sebelum membeli”. Teliti dalam segala hal merupakan sikap terpuji, karena dengan teliti kita dapat memperhitungkan keuntungan atau kerugiannya, sehingga dapat memperkecil kesalahan. Teliti berlaku dalam segala hal, termasuk dalam soal ekonomi. Setiap anggota keluarga semestinya memiliki sikap teliti. Menumbuhkan sikap teliti harus diawali oleh orangtua dalam keluarga, agar menjadi kepribadian anak-anak dalam hidup keseharian.
Menumbuhkan sikap teliti dalam kehidupan keluarga, berkenaan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak dalam memperhitungkan segala sesuatunya secara teliti, sehingga dapat mengihindari dan memperkecil kesalahan.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap ketelitian pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan sikap teliti dari orangtua terhadap anak-anak agar menjadi kepribadian salah satunya melalui penteladanan dan melibatkan anak-anak. Misalnya, orangtua bersama anak-anak membeli keperluan sekolah ke toko buku, biarkan anak-anak memilih dan mengemas belanjaannya atau menghitung pembayarannya kembaliannya.
Dalam kelompok bermain, saat anak-anak bermain dengan teman sebayanya, sikap teliti juga dapat diterapkan secara langsung. Orangtua dapat membimbing anaknya, bagaimmana memasangkan kembali alat-alat mainan tertentu yang telah dibongkar.
Orangtua juga dapat membicarakan dengan anak-anaknya dalam melalukan tugas sekolah atau pekerjaan di rumah yang memerlukan ketelitian, sehingga mendapatkan hasil yang baik. Katakan kepada anak-anak kita jangan melakukan tugas atau pekerjaan secara asal-asalan.

39. Bersikap Ulet
Apakah yang dimaksud dengan sikap ulet? Sikap ulet adalah kemauan keras seseorang dalam berusaha mencapai tujuan, cita-cita, keberhasilan dan keberuntungan. Bagaimana ciri-ciri orang bersikap ulet? Orang bersikap ulet dapat dicirikan dengan berusaha dan berupaya tanpa kenal menyerah atau prustasi dalam meraih keberhasilan dan selalu mencoba lagi bila mengalami kegagalan.
Bagaimana menanamkan sikap ulet pada anak dalam keluarga? Sikap manusia sesungguhnya selalu mengeluh, menyesal dan menggerutu ketika melakukan sesuatu apalagi jika tidak berhasil. Padahal sikap ulet menurut pepatah orangtua sebagai pangkal keberhasilan. Pepatah ini perlu ditanamkan terhadap anak-anak kita dalam menjalani hidupnya. Seseorang yang ulet dalam berusaha, belajar, mengejar cita-cita, atau berdagang selalu mendapat keberhasilan yang lebih dari orang lain yang bekerja asal-asalan. Karena dengan sikap ulet kita selalu ingin mencoba lagi ketika mengalami kegagalan.
Menanamkan sikap ulet dalam kehidupan keluarga, berkaitan dengan kemampuan orangtua dan anak-anak untuk terus berusaha tanpa mengenal lelah dalam meraih keberhasilan dan tidak menyerah atau putus asa ketika mengalami kegagalan.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan sikap keuletan pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Menerapkan sikap ulet dari orangtua terhadap anak-anak agar menjadi kepribadian dapat salah satunya dengan penteladanan. Misalnya kita sebagai orangtua sebagai pedagang atau apa saja yang bergerak dibidang ekonomi atau sebagai pekerja dalam profesi apa pun harus mampu memperlihatkan keuletan dihadapan anak-anak.
Dalam kelompok bermain misalnya, bisa juga anak-anak diberi tugas untuk menyusun menara balok atau mainan lain dengan memberi semangat agar mencapai ketinggian maksimal. Apabila balok yang disusun itu roboh dan roboh lagi, kita harus tetap memberikan dorongan agar menyusun kembali balok itu hingga berhasil.
Terkadang selama berusaha atau berdagang, kita mendapat keuntungan, tiba-tiba mengalami kerugian. Bisa saja masalah ini diketahui anak-anak. Disinilah kita dapat menanamkan sikap ulet kita dihadapan anak-anak dengan tidak mengeluh, menggerutu, apalagi putus asa. Perlihatkan oleh kita semangat hidup tanpa mengenal menyerah.
Orangtua dan anak-anak bisa juga membicarakan sikap dan perilaku ulet ini dalam hidup keseharian untuk mencapai cita-cita sekolah bagi anak-anak, atau melakukan pekerjaan di rumah agar mencapai hasil yang maksimal.

40. Perilaku Bersih
Apakah yang dimaksud dengan perilaku bersih? Perilaku bersih adalah suatu upaya untuk berperilaku bersih dalam keadaan apa pun dan di mana pun. Bagaimana ciri-ciri orang berperiku bersih? Orang bersih dalam lingkungan dapat dicirikan dengan selalu menjaga diri dan lingkunagnnya tetap bersih dari berbagai kotoran, sampah atau polusi.
Bagaimana menumbuhkan perilaku bersih pada anak dalam keluarga? Perilaku bersih merupakan tindakan yang terpuji. Pepatah mengatakan, bahwa “bersih pangkal sehat”. Kebersihan dalam agama Islam dianggap sebagian daripada keimanan seseorang terhadap Tuhannya. Setiap anggota keluarga hendaklah mempunyai perilaku bersih dalam segala hal, terutama bersih dari dan bersih lingkungan di mana kita hidup. Apalagi kita selaku orangtua harus mampu menunjukan perilaku bersih yang dapat ditiru oleh anak-anak kita dalam keluarga dan di lingkungan masyarakat atau lingkungan lainnya.
Perilaku bersih dalam kehidupan keluarga berkaitan dengan kewajiban orangtua memberikan bimbingan, bagaimana perilaku bersih itu diterapkan terhadap anak-anak di mana saja hidup.
Kemampuan orangtua dalam menanamkan perilaku bersih pada anak-anaknya dapat dilakukan melalui enam cara, yaitu: (1) penteladanan, (2) penyontohan, (3) keterlibatan, (4) penguatan, (5) kebersamaan, dan (6) membicarakanya.
Dalam penerapan perilaku bersih terhadap anak-anak, kita dapat memberikan bimbingan dalam hal:
 Membiasakan anak-anak agar mandi teratur dengan menggunakan sabun dan sikat gigi;
 Membereskan tempat tidur ketika anak-anak bangun tidur;
 Membuang sampah selalu pada tempatnya yang disediakan;
 Membersihkan lingkungan sekitar dengan menyapu, mengepel lantai dan membabat rumput.
 Belajar mencuci bajunya sendiri atau mencuci piring sehabis makan;

Dengan pembimbingan ini, sesungguhnya kita telah menanamkan perilaku bersih terhadap anak-anak kita, sehingga menjadi manusia yang selalu mengutamakan kebersihan dimana pun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s